Sabtu, 09 November 2013

KRITISME IMMANUEL KANT


BAB 1
PENDAHULUAN

Sejarah perkembangan dunia barat secara kronologis dimulai dengan masa Yunani Kuno 6 abad sebelum Masehi. Masa Hellenika Romawi abad 4 sebelum Masehi. Masa Parsitik abad 2 Masehi. Masa Skolastik abad 8 Masehi. Masa Rennaisanse abad 14-16  Masehi, kemudian memasuki masa Aufklaerung abad 18, atau memasuki periode Modern abad 19 serta Posmodernisme abad 20. Pada abad 17 muncul pemikiran falsafah empirisme, tokoh empirisme yang terkenal adalah  Francis Bacon (1561-1626), Thomas Hobes (1588-1679), dan John Locke (1632-1704). Kemudian muncul pula Rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes (1596-1650), dan Spinoza (1632-1677).  
Rasionalisme dianggap sebagai titik awal dimulainya pemikiran filsafah yang benar-benar menggunakan kemampuan berpikir atau ratio untuk memikirkan sesuatu secara lebih mendalam, tanpa dipengaruhi oleh doktrin agama atau mitos. Aliran ini menjelaskan bahwa kemampuan akal manusia dapat menerangkan segala macam persoalan dan memahami segala persoalan sehingga dapat menyelesaikan persoalan duniawi yang berkaitan dengan manusia.  Dengan kepercayaan yang sangat besar terhadap kemampuan akal manusia, maka mereka menentang setiap kepercayaan yang bersifat dogmatis yang terjadi pada abad  pertengahan.
Rene Descartes merupakan salah satu tokoh rasionalisme yang berlandaskan pada prinsip a priori. Prinsip ini meragukan segala macam pernyataan kecuali pada satu pernyataan yaitu kegiatan yang meragu-ragukan itu sendiri. Itu sebabnya Rene Descartes menyatakan sebuah pernyataan “saya berpikir maka saya ada (cogito ergo sum)”. Setelah itu muncul kembali sebuah aliran yang dikenal dengan empirisme yang menentang aliran rasionalisme. Tokoh yang mengembangkan aliran ini adalah Davis Hume (1611-1776).  David Hume menyatakan bahwa sumber satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan adalah pengalaman. Beliau menentang rasionalisme yang berlandaskan pada prinsip a priori, sebab kelompok ini menggunakan prinsip a posteriori. Oleh karena itu muncullah seorang filsuf yang bernama Immanuel Kant, yang ingin menyelesaikan perbedaan antara rasionalisme dan empirisme dengan menggunakan sintesis a priori.
Immanuel Kant adalah seorang filsuf besar yang muncul dalam pentas pemikiran filosofis zaman Aufklarung menjelang akhir abad ke 18. Lahir di Konisberg, sebuah kota kecil di Prussia Timur, pada tanggal 22 April 1724. Kant memulai pendidikan formalnya di Collegium Friderivianum, sekolah yang berlandaskan semangat Peitisme. Di sekolah ini anak dididik dengan disiplin yang tinggi, mengormati pekerjaan dan kewajibannya, sehingga sekolah ini mengajarkan begitu banyak hal yang kelak akan sangat berguna bagi perkembangan mental dan kehidupannya. Di sekolah ini diajarkan pula bahasa latin yang sering dipakai oleh kalangan terpelajar dan para ilmuwan untuk mengungkapkan pemikiran mereka. Immanuel Kant dikenal sebagai tokoh Kritisme. Hasil pemikiran ini bertujuan untuk menjembatani pertentangan antara kaum rasionalisme dan kaum empirisme, sebab menurut Kant baik rasionalisme maupun empirisme belum berhasil membimbing manusia untuk memperoleh pengetahuan yang pasti, berlaku umum, dan terbukti dengan jelas.



BAB II
PEMBAHASAN

Immanuel Kant adalah filsuf yang hidup pada puncak perkembangan abad pencerahan, yaitu masa dimana pemikiran yang menekankan rasionalisme sedang berkembang dengap pesat. Setelah hilang pada masa abad petengahan dimana otoritas kebenaran pada umumnya terletak di gereja dan para pendetanya, maka unsur rasionalitas ini seakan muncul kembali pada masa Renaisance pada abad ke 15, kemudian mencapai puncaknya pada abad ke 18. Negara Jerman tempat lahir Kant tidak berpartisipasi dalam proses abad pencerahan. Proses pencerahan ini lebih dipengaruhi oleh pemikiran John Locke (16321704) dan Newton. Para pemikir yang juga cukup berpengaruh pada masa itu adalah David Hume dan Adam Smith (17231790). Di Jerman era Pencerahan berjalan lambat. Hal ini terjadi karena kondisi masyarakat dan politiknya yang masih feodal pada masa itu, serta pemikiran rasionalisme yang sangat kuat pengaruhnya pada dunia akademik.
Immanuel Kant dalam merumuskan filsafatnya terinspirasi dari dua pandangan besar yang sangat berpengaruh di masa itu, yaitu rasionalisme dan empirisme. Perbedaan utama antara rasionalisme dan empirisme terletak pada prinsip pengetahuan yang dianutnya yaitu a priori dan a posteriori. Untuk menyelesaikan perbedaan antara Rasionalisme dan Empirisme, Iammanuel Kant mengajukan sintesis a pripori. Menurutnya, pengetahuan yang benar adalah yang sintesis a pripori, yakni pengetahuan yang bersumber dari rasio dan empiris yang sekaligus bersifat a pripori dan a posteriori. Immanuel Kant adalah pembawa aliran Kritisisme atau Rasionalisme Kritis atau lebih dikenal dengan Modernisme. Beliau terkenal dengan tiga kritiknya, yaitu  Critique of Pure Reason (1781), Critique of Practical Reason (1788), dan Critique of Judgment (1790). Hasil pemikirannya ini menunjukan sebuah sintesis antara posisi rasionalisme klasisk dan empirisme, dimana inti dari sintesis pengetahuan ini ditemukan dalam konsep pengetahuan sintetik a priori.
Sintesis Immanuel Kant mengenai rasionalisme dan empirisme didasarkan pada dialektika transendental. Filsafat transendental adalah filsafat yang berurusan bukan untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana manusia bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dll, melainkan berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran manusia tentang anatomi tubuh binatang, dll. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut hukum apriori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang berdasarkan pengetahuan inderawi (aposteriori).
Dalam pengetahuan indrawi Kant berpendapat bahwa selalu ada dua bentuk apriori yaitu ruang dan waktu. Pada taraf akal budi, Kant membedakan antara akal budi dengan rasio. Akal budi untuk memikirkan segala sesuatu yang ditangkap oleh indrawi yang juga merupakan bentuk pengenalan antara bentuk dengan materi sebagai bentuk data-data indrawi yang dinamakan sebagai kategori. Sedangkan pada taraf rasio Kant menyatakan bahwa rasio digunakan untuk menngambil kesimpulan dari suatu keputusan, rasio juga membentuk tiga argumentasi mengenai Tuhan, jiwa, dan dunia. Ide disini merupakan suatu cita-cita yang menjamin kesatuan antara jiwa, dunia, dan Tuhan.
Immanuel Kant berpendapat bahwa pengetahuan yang dihasilkan melalui rasionalisme tercermin dalam putusan yang bersifat analitik apriori, dimana keputusan ini mengandung kepastian dan berlaku umum. Sedangkan pada aliran empirisme tercermin dalam putusan sintetik a posteriori yang bersifat tidak tetap. Oleh karena itu Kant memadukan keduanya dalam bentuk sintetsis a priori, dalam putusan ini   akal budi dan pengalaman digunakan serentak, dimana untuk mendapatkan suatu putusan sintetik a priori ini harus melalui tiga tahap, yaitu:
1.      Tahap indrawi.
Pada tahap ini subjek sangat berperan penting dalam mengambil keputusan, namun tentu saja harus ada rasio murni yaitu ruang dan waktu yang dapat diterapkan dalam pengalaman. Hasil dari tahap ini merupakan sebuah fenomena kongkret, namun berubah-ubah disesuaikan dengan subjek dan situasi yang dialami oleh subjek tersebut.
2.      Tahap akal budi.
Segala sesuatu yang didapatkan pada tahap pertama tadi, agar mendapatkan pengetahuan yang bersifat lebih objektif dan universal maka haruslah dituangkan dalam bentuk akal.
3.      Tahap rasional.
Pada tahap ini merupakan pengetahuan yang telah didapat dari tahap pertama dan kedua sehingga menghasilkan sebuah putusan sintetik a priori, ketika dikaitkan dengan tiga macam ide yaitu Tuhan sebagai ide teologis, jiwa sebagai ide psikologis, dunia sebagai ide kosmologis. Ketiga ide ini hanya merupakan petunjuk untuk menciptakan adanya kesatuan pengetahuan.
Setelah menjelaskan fungsi pemikiran manusia sebagai suatu yang ilmiah, maka Kant juga menjelaskan fungsi praktis dari pemikiran manusia. Fungsi ini menjelaskan bahwa pemikiran manusia perlu mensyaratkan untuk bertindak secara etis, oleh sebab itu kehidupan secara etis mensyaratkan keabadian dan itu berarti Tuhan. Oleh karena itu, argumentasi tentang Tuhan harus diambil dengan akal budi praktis, sehingga menyatakan diri sebagai hukum moral dalam hidup. Manusia bisa menyadari akan datangnya segala sesuatu yang baik dan membimbing dirinya untuk mencapai segala sesuatu dalam kebaikan merupakan sebuah kekuatan yang didapat karena adanya Tuhan, jika tidak ada campur tangan Tuhan maka manusia tidak akan tahu tujuan hidup mereka yang sebenarnya.  Pemikiran etika ini menjadi pelopor lahirnya argument moral tentang adanya Tuhan dengan Kant sebagai pelopornya.



BAB III
KESIMPULAN

Immanuel Kant merupakan seorang filsuf yang menggabungkan antara aliran rasionalisme dan empirisme yang dipelopori oleh Rene Descartes dan David Hume. Penggabungan dua aliran ini tercipta dalam suatu pandangan  kritisme Immanuel Kant. Tiga kritikan yang menjadi karya Immanuel Kant yang paling terkenal dan memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran para filsuf sesudahnya, yaitu
1.      Critique of Pure Reason yaitu kritik atas rasio murni (1781).
2.      Critique of Practical Reason kritik atas rasio praktis (1788).
3.      Critique of Judgment kritik atas pertimbangan (1790) 


DAFTAR PUSTAKA
 
Abshor, Muhammad Ulil. (2013). Bukti Adanya Tuhan Menurut Immanuel Kant. Tersedia pada: http://digilib.uinsuka.ac.id/7674/2/BAB%20I,%20VI,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf . Diakses pada tanggal 9 November 2013.
Ausop, Asep Zaenal. (2005). Modul Pendidikan Agama Islam Institut Teknologi Bandung. Bandung: Jurusan Sosioteklnologi, Fakultas Seni Rupa dan Design, ITB.
Bordum, Anders. (2002). The Categorical Imperative Analyzing Immanuel Kant’s Grounding for A Metaphysics of Morals. Tersedia pada: http://openarchive.cbs.dk/xmlui/bitstream/handle/10398/6418/wp42002.pdf?sequence=1. Diakses pada tanggal 9 November 2013.
Wattimena, Reza AA. (2010). Filsafat Kritis Immanuel Kant. Tersedia pada: http://rezaantonius.files.wordpress.com/2010/03/kant.pdf. Diakses pada tanggal 9 November 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar