HUBUNGAN
PETA PENDIDIKAN 4 PAUL ERNEST DAN KURIKULUM 2013 BESERTA IMPLEMENTASINYA
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu Matematika
Dosen
Pengampu : Prof. Dr. Marsigit
Disusun oleh:
1. Endah
Okta Ningrum Wahana Sejati (13709251049)
2. Samsul
Bahri (13709251051)
3. Hanna
Filen Sopia (13709251052)
4. Megita
Dwi Pamungkas (13709251081)
5. Milah
Nurkamilah (13709251083)
PENDIDIKAN
MATEMATIKA
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2013
PETA DUNIA MENURUT PAUL ERNEST
Paul Ernest
menjabarkan peta pendidikan dunia menjadi empat bagian. Dari tiap-tiap peta
pendidikan tersebut menjelaskan
karakteristik masing-masing dari setiap group sosial yang digolongkan oleh Paul
Ernest yaitu industrial trainer, technological pragmatist, old humanist,
progressive educator, dan public educator. Berikut ini akan dijelaskan secara
rinci mengenai peta pendidikan empat, dimana pada peta empat ini pendidikan
yang dikategorikan berdasarkan gorup sosial lebih menekankan pada penjelasan
pendidikan dari sudut pandang sumber (resources),
penilaian (assesment), dan keragaman
(diversity). Untuk kemudian setelah
dijabarkan satu persatu karakteristik dari setiap aspek yang dikaji dalam peta
pendidikan empat ini akan dikaitkan dengan implementasinya pada kurikulum 2013.
1.
Industrial trainer
a.
Resources
·
Pembelajaran berpusat pada guru (Teacher center) dimana siswa tidak
diberikan kesempatan seluas-luasnya dalam pembelajaran.
·
Pembelajaran ini berupa instruksi
yang dibentuk oleh guru untuk diikuti oleh siswa.
·
Alat yang digunakan dalam
pembelajaran adalah kapur tulis, papan tulis, dan anti kalkulator.
·
Bisa dikatakan pembelajaran ini
merupakan pembelajaran konvensional.
b.
Assesment
·
Menggunakan tes internal yang
meliputi standar kelulusan.
·
Tes akhir dijadikan indikator
keberhasilan tanpa melihat prosesnya.
c.
Diversity
·
Tidak adanya keragaman dalam hal
kemampuan siswa, semua homogen karena proses pembelajaran yang terlalu terpusat
pada guru.
2.
Technological pragmatist
a.
Resources
·
Sumber tetap pada guru, namun pada
technological pragmatist dalam proses
pembelajarannya guru sudah menggunakan alat bantu pengajaran seperti
kalkulator.
·
Dalam pembelajarannya berbasis
praksis atau lebih menekankan pada praktek siswa dalam proses pembelajaran.
b.
Assesment
·
Dari segi penilaian masih
menggunakan eksternal test. Namun orientasi tujuan dari penilaian ini berbeda
dengan industrial trainer. Tujuannya
adalah untuk melihat keterampilan siswa dalam proses pembelajaran yang bisa
digunakan atau diterapkan dalam dunia kerja.
c.
Diversity
·
Adanya keragaman sosial pendidikan
dimana keragaman ini diarahkan agar mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan dunia
kerja.
3.
Old humanist
a.
Resources
·
Guru sebagai sumber pembelajaran
menggunakan alat bantu pengajaran berupa kalkulator, kompas, dan komputer. Hal
ini digunakan dalam rangka meningkatkan motivasi dalam belajar matematika dan
memfasilitasi siswa dalam memahami matematika.
b.
Assesment
·
Pada group sosial old humanist, penilaian dugunakan untuk
menilai kemampuan siswa dalam bidang matematika. Cara penilaiannya masih sama
dengan sebelumnya yaitu menggunakan eksternal tes, namun lebih dikhususkan pada
kemampuan matematika.
c.
Diversity
·
Dalam hal ini, matematika murni
dipandang sebagai warisan budaya dari generasi ke generasi sehingga menimbulkan
keberagaman pengetahuan matematika dalam tiap generasi yang berbeda.
·
Keragaman sosial pada old humanist dipandang sebagai sesuatu
yang tidak terlalu mempengaruhi kompetensi siswa dalam matematika, sebab
penilaian matematika dalam hal ini bersifat objektif.
4.
Progressive educator
a.
Resources
·
Sumber yang digunakan bervariasi
tidak hanya berpusat pada guru, namun orientasi pembelajaran sudah berpusat
pada siswa dimana penggunaan alat peraga ataupun fasilitas lainnya yang
berhubungan dengan lingkungan pendidikan mampu mengeksplorasi kemampuan siswa
dalam pembelajaran matematika. Sumber untuk mencipta, mengekspresikan, dan
membuat ide-ide matematika dibutuhkan untuk menghubungkan matematika dengan
pengalaman siswa.
b.
Assesment
·
Penilaian eksternal tidak
dilakukan karena dikhawatirkan akan merusak perkembangan siswa, kesalahan yang
dilakukan siswa tidak langsung disalahkan tetapi diberitahukan dengan cara yang
lain, misalnya tidak dengan menggunakan tanda silang tetapi dengan menuliskan
“seharusnya” sehingga mengindikasikan bahwa jawaban mereka salah, hal ini
dimaksudkan untuk melindungi siswa agar emosionalnya tidak tersakiti. Menggunakan portofolio dalam penilaiannya,
dimana dalam penilaiannya tidak hanya dilihat dari kemampuan praksis atau hasil
akhir namun proses juga mempengaruhi dalam penilaian.
c.
Diversity
·
Multiple solution dalam hal ini menimbulkan
keragaman pada kemampuan siswa dalam belajar matematika, karena siswa diberikan
kesempatan dalam proses pencarian jawaban sehingga siswa bisa mengembangkan
kemampuan berpikir mereka menjadi lebih kreatif.
·
Local culture dalam proses pembelajaran, menimbulkan
keragaman cara pengajaran matematika sebab disesuaikan dengan budaya setempat,
artinya keragaman budaya dan ras yang dimiliki siswa digunakan untuk
pembelajaran matematika, nilai besar yang diharapkan adalah untuk memenuhi
kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap siswa untuk mendorong emosi dan membantu
membangun harga diri dan menghindari konflik dalam diri siswa.
5.
Pubilc educator
a.
Resources
·
Menyediakan berbagai jenis sumber
belajar yang luas untuk memfasilitasi berbagai pendekatan mengajar yang
bervariasi dan aktif.
·
Penyediaan alat seperti koran data
statistik pendukung dan sebagainya untuk mempelajari dan menginvestasi hubungan
dan keterkaitan sosial.
·
Memfasilitasi siswa untuk
mengontrol dalam mengatur dirinya dan akses dirinya terhadap sumber belajar.
b.
Assesment
·
Penilaian dilakukan pada
pengukuran kompetensi dan prestasi positif dalam matematika tanpa membedakan
siswa berdasarkan kemampuan isi dari tes penilaiannya diantaranya berbentuk
portofolio dengan konteks sosial.
c.
Diversity
·
Kurikulum matematika harus
merefleksikan keragaman sejarah, budaya, lokasi geografis dan sumber daya.
Keragaman tersebut diakui, diakomodasi, dan dikenal sebagai pusat atau bagian
dari sifat matematika.
KURIKULUM 2013
A.
RESOURCES (SUMBER BELAJAR)
Arah pengembangan penguatan proses pada kurikulum 2013tepatnya dalam proses
pembelajaran memiliki karakteristik sebagaiberikut:
1. Menggunakan pendekatan ilmiah
(scientific) melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan
mencipta
2. Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak
pembelajaran untuk semua mata pelajaran
3. Menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan diberi tahu (discovery learning)
4. Menekankan kemampuan berbahasa sebagai alatkomunikasi,
pembawa pengetahuan, berpikir logis, sistematis dan kreatif.
Dengan
demikian sumber belajar diarahkan sebagai berikut:
1. Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga
di lingkungan sekolah dan masyarakat
2. Guru bukan satu-satunya sumber belajar, siswa diberi
kesempatan untuk aktif mengeksplorasi pembelajaran menggunakan berbagai media
dan alat karena pembelajaran berpusat pada siswa (student centered active learning)
3. Sikap tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui
contoh dan teladan
4. Buku teks wajib pegangan guru dan siswa disediakan oleh
pemerintah, dengan model buku kurikulum 2013 sebagai berikut :
a. Buku berbasis aktivitas untuk semua jenjang sekolah,
terutama SD/MI
b. Tiap pembahasan menggunakan pendekatan kontekstual
(idealnya trandisipliner)
c. Mengajak siswa untuk mencari tahu berdasarkan konteks
pembahasannya
d. Pendekatan terpadu untuk buku SD/MI dan IPA/IPS SMP/Mts
e. Tiap pembahasan mencakup tiga ranah kompetensi :
pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
f. Tiap bab/tema memuat satu atau lebih projek untuk
dikerjakan dan disajikan siswa.
5. Sifat pembelajaran kontekstual, sehingga sumber belajar
harus kontekstual
6. Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem
penilaian serta kompetensi yang diharapkan.
Dari kriteria yang dikemukakan dalam kerangka pengembangan kurikulum
2013 terlihat bahwa dari segi resources, kurikulum 2013 mengacu pada pola pendidikan
progressive educator dan public educator dalam ideologi pendidikan menurut Paul Ernest.
Dimana sumber belajar harus mempertimbangkan dengan menggunakan berbagai
variasi sumber belajar yang kontekstual dan berbasis proyek berdasarkan
masalah-masalah sosial yang berkembang di lingkungan maupun masyarakat. Dengan
sumber yang beragam, dan pembelajaran yang berbasis pada siswa aktif (student centered active
learning) ini mampu mengekslporasi kemampuan siswa terutama dalam matematika,
karena siswa dituntut untuk aktif membangun sendiri
pengetahuannya, menambah keterampilan siswa dalam matematika, dan menanamkan
sikap peduli dan menumbuhkan sikap bahwa belajar merupakan kebutuhan bagi
perkembangannya sendiri, sehingga siswa memiliki kesadaran untuk terus belajar
dan mengembangkan diri. Dan diharapkan nantinya, mampu mengatasi permasalahan
yang timbul dalam lingkungan sosialnya.
Selain itu, pendekatan ilmiah (scientific)
yang diterapkan pada kurikulum 2013 mengacu pada technological pragmatis dimana
siswa belajar melalui praktek dan sikap diajarkan tidak hanya diajarkan secara
verbal tetapi melalui contoh dan teladan.
Namun, untuk mendukung keberhasilan implementasi
kurikulum 2013 ini perlu diperhatikan faktor pendukung keberhasilan kurikulum dilihat
dari sumber/resources dalam pembelajaran sebagai berikut:
1. Kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
dengan kurikulum yang diajarkan dengan buku teks yang digunakan.
2. Ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar
yang:
a. Mengintegrasikan keempat standar pembentuk kurikulum
b. Sesuai dengan model interaksi pembelajaran
c. Sesuai dengan model pembelajaran berbasis pengalaman
individu dan berbasis deduktif
d. Mendukung efektifitas sistem pendidikan
B.
SISTEM PENILAIAN
Proses penilaian pada kurikulum 2013 sebagai berikut:
1.
Proses penilaian dari berbasis
output menjadi berbasis proses dan output serta kemampuan menilai diri sendiri.
2.
Penilaian menekankan aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik secara proporsional.
3.
Penilaian tes dan portofolio
saling melengkapi
4.
Deskripsi elemen perubahan
penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 baik untuk SD,SMP, SMA dan SMK
meliputi :
a.
Penilaian berbasis kompetensi
b.
Pergeseran penilaian melalui tes
(mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian
otentik (mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan
proses dan hasil)
c.
Penilaian tidak hanya pada level
KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL.
d.
Mendorong pemanfaatan portofolio
yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian dan penilaian mandiri oleh
siswa.
5.
Sistem Penilaian Kurikulum 2013
yaitu sebagai berikut :
a.
Dilakukan oleh guru
1)
Penilaian otentik, dengan waktu
pelaksanaan terus-menerus atau berkelanjutan
2)
Penilaian projek, waktu
pelaksanaan di akhir bab atau tema
3)
Ulangan harian, waktu pelaksanaan
sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (terintegrasi dengan proses
pembelajaran) dan dapat berupa penugasan.
4)
UTS/UAS, guru dibawah koordinasi
satuan pendidikan dengan waktu pelaksanaan semesteran atau berdasarkan
penentuan di kalender pendidikan pada program pembelajaran.
b.
Dilakukan oleh siswa
Penilaian diri, yang dilakukan tiap kali sebelum ulangan
harian.
c.
Dilakukan oleh sekolah
1)
Ujian Tingkat Kompetensi (selain UN) ,
dilaksanakan tiap tingkat kompetensi yang waktunya tidak bersamaan dengan UN
dengan kisi-kisi dari pemerintah.
2)
Ujian Sekolah, dilaksanakan pada
akhir jenjang sekolah
d.
Dilakukan oleh pemerintah
1)
Ujian Nasional (UN) , waktu
pelaksanaan di akhir jenjang sekolah
2)
Ujian Mutu Tingkat Kompetensi,
dilaksanakan tiap akhir tingkat kompetensi (yang bukan akhir jenjang sekolah),
dilakukan dengan metode survei.
Berdasarkan uraian tentang penilaian yang dilakukan dalam kurikulum
2013, terlihat bahwa sistem penilaiannya menggunakan eksternal tes sekaligus
portofolio assessment, dan penilaian diri. Hal ini menunjukan bahwa sistem
penilaian kurikulum 2013 mengadopsi pada semua sistem penilaian dari 5 negara
yang dikelompokkan oleh Paul Ernest.
C.
DIVERSITY (KERAGAMAN)
Keragaman individu atau siswa dalam kurikulum
2013 menjadi bahan pertimbangan yang penting. Dalam pengelolaan kurikulum,
idealnya pemerintah pusat dan daerah memiliki kendali kualitas dalam
pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan, dan satuan pendidikan harus
mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan,
kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah. Kerangka pengembangan kurikulum
seharusnya mampu mengakomodir berbagai keragaman peserta didik dalam kesiapan
fisik, emosional, intelektual, dan spiritual. Sehingga kualitas output atau
lulusan dapat memenuhi kebutuhan individu, masyarakat, bangsa, negara, dan
dunia serta membangun peradaban secara luas. Melalui kurikulum 2013 yang
menekankan pada aspek penguasaan sikap (spiritual, sosial), pengetahuan,
keterampilan dianggap mampu untuk mengembangkan hal tersebut, dengan melalukan
perubahan pada keempat standar kurikulum. Jadi terlihat jelas bahwa kurikulum
2013 ini mengadopsi pada keragaman yang terdapat pada progressive dan public
educator.
HASIL DISKUSI
Secara teoritis
kurikulum 2013 ini sudah bagus dilihat dari sumber belajar, penilaian dan
keragaman. Karena mampu mengembangkan siswa secara individu baik sebagai
pribadi, anggota masyarakat dan makhluk Tuhan yang beriman bertaqwa kepada Tuhan. Namun
pada implementasinya, kurikulum ini sulit untuk diterapkan. Segala sesuatu yang
direncanakan begitu baik jika dalam pelaksanaan dan implementasinya tidak
matang dan memperhatikan segala aspek kebutuhan pendidikan sampai ke tingkat
daerah maka akan mengalami kendala. Sehingga tidak heran jika terdapat banyak
isu tentang kurikulum 2013 yang beredar
dipublik, diantaranya adalah pelaksanaan kurikulumnya terkesan mendadak tanpa
evaluasi kurikulum yang sedang berjalan, tidak melibatkan guru atau asosiasi pendidik, kurang
sosialisasi, dan mengabaikan kemampuan guru dalam membuat RPP dan silabus.
Berikut gambaran mengenai hubungan peta pendidikan menurut paul ernest dan
kurikulum 2013 ditinjau dari segi resources/sumber belajar, penilaian, dan
diversity atau keragaman.
Secara teoritis,
kurikulum 2013 dari segi resources, sistem penilaian dan diversity memiliki
konsep yang bagus, namun jika dilihat dari implementasinya masih memiliki
beberapa kendala, karena dari teori tersebut perlu diperhatikan beberapa hal
sebagai berikut :
1.
Dari segi materi atau konten
pembelajaran, dirasa terlalu sulit atau tidak sesuai dengan perkembangan
kognitif, jadi sebaiknya pembuatan buku sumber melibatkan pihak-pihak yang
terkait agar buku yang dihasilkan kualitasnya bagus atau sesuai.
2.
Materi harus sesuai dengan tingkat
perkembangan kogitif anak, termasuk metode atau pendekatan pembelajarannya.
3.
Melakukan sosialisasi yang matang
terhadap guru dan tenaga kependidikan sehingga kesiapan jauh lebih matang
4.
Kesiapan sarana dan prasarana baik dari siswa,
guru, satuan pendidikan, dan pemerintah harus memang sudah benar-benar siap
5.
Peningkatan kompetensi guru
6.
Guru harus menguasai tentang
format atau sistem penilaian sehingga tidak terdapat kendala dalam
pelaksanaannya
7.
Materi harus disesuaikan dengan
kebutuhan nasional dan daerah, agar output dari proses pendidikan ini mampu
membangun dirinya sendiri, agama, masyarakat, bangsa dan negara