Elegi kehidupan takkan pernah habis terkuak, selagi manusia masih menjalani hidupnya pasti akan ada banyak hal yang mereka rasakan. Rasa sedih, kecewa, marah, bahagia, bangga, haru, cinta, kasih sayang, bimbang, ikhlas dan apapun itu berkaitan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada dalam dimensi ruang dan waktu.
Begitu pula dalam perjalanan kami memahami elegi, banyak rasa yang bergejolak dalam hati dan pikiran. Karena dalam memahami elegi ini butuh olah hati dan olah pikir yang baik, insting yang tajam, juga penggunaan intuisi. Walau pada akhirnya sang bagawat memberikan kesempatan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya kepada kami dalam memahaminya. Tak jarang pula para cantraka menggunakan bahasa analog dalam tuangan ide pikirannya kedalam sebuah pendapat, hal ini tidak lain dan tidak bukan karena bahasa analog bisa menjembatani kami kedalam dunia filsafat yang sesungguhnya. Inilah bentuk usaha kami para cantraka dalam menggapai ilmu. Karena kami sadar, kami hanyalah butiran pasir dari lautan pasir filsafat yang begitu luas sehingga perlu bagi kami untuk terus belajar dan mengikuti proses sampai akhir. Ibarat elegi awal dan akhir, kami semua memulainya dari awal, yaitu dari mulai elegi pengetahuan umum, elegi ikhlas, elegi kehidupan, elegi kekuasaan dan masih banyak elegi-elegi lainnya yang sampai saat ini belum rampung terbaca dan terpahami seluruhnya. Namun kami sangat yakin, bahwa sang bagawat akan terus membimbing kami dalam memahami setiap elegi yang ada dan yang mungkin ada, dan memberikan pelajaran kepada kami agar kami membuka pandangan seluas-luasnya dalam mengolah pikiran dan hati dengan landasan spiritual yang kokoh. Agar kami tidak termakan oleh mitos dan dipenuhi dengan keragua-garuan.
Elegi ikhlas merupakan salah satu dari banyak elegi yang mengajarkan kita bagaimana mengolah hati dan pikiran secara seimbang. Mengajarkan kita bagaimana mencapai keteguhan hati, kegigihan usaha, berbakti kepada orang tua, cara berkomunikasi yang benar terhadap sesama manusia terlebih lagi kepada Tuhan yang menciptakan kita. Mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dalam mencari ilmu, tidak berlebihan dan senantiasa menebar kebaikan, serta manfaat bagi kemaslahatan hidup sesama manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar