Fatalisme
adalah aliran filsafat yang pasrah bergantung pada nasib dan takdir. Faham ini
berpendapat bahwa apa yang terjadi pasti terjadi tanpa melihat upaya kita untuk
merubah atau mencegahnya. Pasrah dalam arti fatal seperti ini sangat
berkonotasi negatif atau bisa dibilang pasrah dalam arti patah semangat. Saya
tidak sependapat dengan fatalisme, karena faham ini bisa menciptakan rasa putus
asa pada manusia karena tidak bisa merubah jalan hidupnya dan hanya terpaku
pada takdir. Hal ini tidak sejalan dengan firman Allah SWT yang berisi
"Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau bukan manusia itu
sendiri yang merubahnya". Maka janganlah berputus asa dan berprasangka
negatif atas apa yang belum terjadi pada kehidupan kita, berprasangka
positiflah kepada Allah SWT dan kepada hidup yang dijalani. Yakin, bahwa tidak
ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita sebagai manusia terus berupaya
yang terbaik atas segala sesuatu yang kita cita-citakan. Sebab Allah tidak
pernah ingkar, dan akan selalu menepati janji-NYA.
Kodrat
kita sebagai manusia adalah berikhtiar semaksimal mungkin dengan diiringi doa untuk
mengusahakan yang terbaik atas segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di
dunia ini sehingga membawa kita ikhlas dan pasrah akan hasil akhir yang membawa
manusia kepada takdirnya masing-masing. Ikhtiar ini dilakukan sebagai bentuk
usaha manusia untuk mengupayakan segala kemungkinan yang belum terjadi agar mencapai
takdir terbaik dalam kehidupannya, walau pada akhirnya takdir seorang manusia
sudah ditentukan oleh sang Pencipta, namun jika pasrah dan ikhtiar tersebut
kita lakukan secara seimbang maka akan memberikan atmosfer keharmonian dalam
hidup manusia yang penuh dengan ketidaksempurnaan.
Perlu
diketahui bahwa keberadaan dunia dan segala isinya ini sangat berarti karena
adanya ketidaksempurnaan manusia. Oleh karena itu manusia wajib bersyukur
sekaligus banyak memohon ampun kepada Allah SWT. Kenapa harus bersyukur? Karena
jika manusia diciptakan dengan kesempurnaan, maka segala sesuatu yang
diciptakan Allah di dunia ini tidak ada yang berguna, sebab manusia sudah
merasa sempurna dan punya kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu, sehingga
tidak bergunalah adanya ilmu pengetahuan dan semua fasilitas yang Allah berikan
di dunia jika semua manusia sudah sempurna. Kenapa juga harus banyak memohon
ampunan? Karena ketidaksempurnaan manusia, maka banyak manusia yang selalu
bereksperimen dalam upaya mengentaskan rasa penasarannya untuk menemukan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan demi mencapai kebaikan hidup. Dimana ketika
menempuh upaya tersebut dalam perjalanannya manusia banyak melakukan
kesalahan-kesalahan, oleh karena itu selain harus banyak bersyukur maka manusia
juga harus banyak memohon ampun kepada sang pencipta dengan menetapkan hatinya
sebagai komandan dan menetapkan spiritualitas sebagai landasan hidup bagi
manusia. Sehingga tidak hanya olah pikir yang bekerja namun juga diiringi
dengan olah hati dengan landasan spiritual untuk mencapai keseimbangan hidup
yang hakiki baik dalam menggapai ilmu pengetahuan ataupun dalam mengupayakan
segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dalam dimensi ruang dan waktu.
Upaya
manusia dalam mengupayakan ilmu pengetahuan yang mendapatkan kesempatan
seluas-luasnya dari alam dan lingkungan sekitar, sejalan dengan ilmu filsafat
yang memberikan kesempatan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya kepada manusia
yang ingin mempelajarinya. Filsafat menerima secara terbuka hasil pemikiran
manusia, dan menghargai setiap pendapat manusia mengenai segala yang ada dan
yang mungkin ada dalam dimensi ruang dan waktu. Selain itu belajar filsafat
juga bersifat kontinue karena bisa dilakukan setiap saat dimanapun dan
kapanpun. Maka jika manusia ingin berfilsafat dalam hidupnya, berpikirlah
setiap saat dengan membuka pikiran seluas-luasnya dengan menggunakan olah hati
dan olah pikir yang seimbang sehingga membawa manusia pada tingkatan yang lebih
tinggi yaitu dengan menjadikan spiritualitas sebagai landasan hidupnya dalam
berpikir dan mengambil keputusan.