Sabtu, 12 Oktober 2013

EKSISTENSI MANUSIA DALAM IKHTIAR DAN DOA


Fatalisme adalah aliran filsafat yang pasrah bergantung pada nasib dan takdir. Faham ini berpendapat bahwa apa yang terjadi pasti terjadi tanpa melihat upaya kita untuk merubah atau mencegahnya. Pasrah dalam arti fatal seperti ini sangat berkonotasi negatif atau bisa dibilang pasrah dalam arti patah semangat. Saya tidak sependapat dengan fatalisme, karena faham ini bisa menciptakan rasa putus asa pada manusia karena tidak bisa merubah jalan hidupnya dan hanya terpaku pada takdir. Hal ini tidak sejalan dengan firman Allah SWT yang berisi "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau bukan manusia itu sendiri yang merubahnya". Maka janganlah berputus asa dan berprasangka negatif atas apa yang belum terjadi pada kehidupan kita, berprasangka positiflah kepada Allah SWT dan kepada hidup yang dijalani. Yakin, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita sebagai manusia terus berupaya yang terbaik atas segala sesuatu yang kita cita-citakan. Sebab Allah tidak pernah ingkar, dan akan selalu menepati janji-NYA.
Kodrat kita sebagai manusia adalah berikhtiar semaksimal mungkin dengan diiringi doa untuk mengusahakan yang terbaik atas segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini sehingga membawa kita ikhlas dan pasrah akan hasil akhir yang membawa manusia kepada takdirnya masing-masing. Ikhtiar ini dilakukan sebagai bentuk usaha manusia untuk mengupayakan segala kemungkinan yang belum terjadi agar mencapai takdir terbaik dalam kehidupannya, walau pada akhirnya takdir seorang manusia sudah ditentukan oleh sang Pencipta, namun jika pasrah dan ikhtiar tersebut kita lakukan secara seimbang maka akan memberikan atmosfer keharmonian dalam hidup manusia yang penuh dengan ketidaksempurnaan.
Perlu diketahui bahwa keberadaan dunia dan segala isinya ini sangat berarti karena adanya ketidaksempurnaan manusia. Oleh karena itu manusia wajib bersyukur sekaligus banyak memohon ampun kepada Allah SWT. Kenapa harus bersyukur? Karena jika manusia diciptakan dengan kesempurnaan, maka segala sesuatu yang diciptakan Allah di dunia ini tidak ada yang berguna, sebab manusia sudah merasa sempurna dan punya kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu, sehingga tidak bergunalah adanya ilmu pengetahuan dan semua fasilitas yang Allah berikan di dunia jika semua manusia sudah sempurna. Kenapa juga harus banyak memohon ampunan? Karena ketidaksempurnaan manusia, maka banyak manusia yang selalu bereksperimen dalam upaya mengentaskan rasa penasarannya untuk menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan demi mencapai kebaikan hidup. Dimana ketika menempuh upaya tersebut dalam perjalanannya manusia banyak melakukan kesalahan-kesalahan, oleh karena itu selain harus banyak bersyukur maka manusia juga harus banyak memohon ampun kepada sang pencipta dengan menetapkan hatinya sebagai komandan dan menetapkan spiritualitas sebagai landasan hidup bagi manusia. Sehingga tidak hanya olah pikir yang bekerja namun juga diiringi dengan olah hati dengan landasan spiritual untuk mencapai keseimbangan hidup yang hakiki baik dalam menggapai ilmu pengetahuan ataupun dalam mengupayakan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dalam dimensi ruang dan waktu.
Upaya manusia dalam mengupayakan ilmu pengetahuan yang mendapatkan kesempatan seluas-luasnya dari alam dan lingkungan sekitar, sejalan dengan ilmu filsafat yang memberikan kesempatan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya kepada manusia yang ingin mempelajarinya. Filsafat menerima secara terbuka hasil pemikiran manusia, dan menghargai setiap pendapat manusia mengenai segala yang ada dan yang mungkin ada dalam dimensi ruang dan waktu. Selain itu belajar filsafat juga bersifat kontinue karena bisa dilakukan setiap saat dimanapun dan kapanpun. Maka jika manusia ingin berfilsafat dalam hidupnya, berpikirlah setiap saat dengan membuka pikiran seluas-luasnya dengan menggunakan olah hati dan olah pikir yang seimbang sehingga membawa manusia pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu dengan menjadikan spiritualitas sebagai landasan hidupnya dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Rabu, 09 Oktober 2013

Rasa dibalik Elegi

     Elegi kehidupan takkan pernah habis terkuak, selagi manusia masih menjalani hidupnya pasti akan ada banyak hal yang mereka rasakan. Rasa sedih, kecewa, marah, bahagia, bangga, haru, cinta, kasih sayang, bimbang, ikhlas dan apapun itu berkaitan dengan segala yang ada dan yang mungkin ada dalam dimensi ruang dan waktu.
     Begitu pula dalam perjalanan kami memahami elegi, banyak rasa yang bergejolak dalam hati dan pikiran. Karena dalam memahami elegi ini butuh olah hati dan olah pikir yang baik, insting yang tajam, juga penggunaan intuisi. Walau pada akhirnya sang bagawat memberikan kesempatan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya kepada kami dalam memahaminya. Tak jarang pula para cantraka menggunakan bahasa analog dalam tuangan ide pikirannya kedalam sebuah pendapat, hal ini tidak lain dan tidak bukan karena bahasa analog bisa menjembatani kami kedalam dunia filsafat yang sesungguhnya. Inilah bentuk usaha kami para cantraka dalam menggapai ilmu. Karena kami sadar, kami hanyalah butiran pasir dari lautan pasir filsafat yang begitu luas sehingga perlu bagi kami untuk terus belajar dan mengikuti proses sampai akhir. Ibarat elegi awal dan akhir, kami semua memulainya dari awal, yaitu dari mulai elegi pengetahuan umum, elegi ikhlas, elegi kehidupan, elegi kekuasaan dan masih banyak elegi-elegi lainnya yang sampai saat ini belum rampung terbaca dan terpahami seluruhnya. Namun kami sangat yakin, bahwa sang bagawat akan terus membimbing kami dalam memahami setiap elegi yang ada dan yang mungkin ada, dan memberikan pelajaran kepada kami agar kami membuka pandangan seluas-luasnya dalam mengolah pikiran dan hati dengan landasan spiritual yang kokoh. Agar kami tidak termakan oleh mitos dan dipenuhi dengan keragua-garuan.
     Elegi ikhlas merupakan salah satu dari banyak elegi yang mengajarkan kita bagaimana mengolah hati dan pikiran secara seimbang. Mengajarkan kita bagaimana mencapai keteguhan hati, kegigihan usaha, berbakti kepada orang tua, cara berkomunikasi yang benar terhadap sesama manusia terlebih lagi kepada Tuhan yang menciptakan kita. Mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dalam mencari ilmu, tidak berlebihan dan senantiasa menebar kebaikan, serta manfaat bagi kemaslahatan hidup sesama manusia.