Minggu, 22 September 2013

REFLEKSI 1 FILSAFAT ILMU



Filsafat merupakan cara fikir yang terbuka, karena melibatkan olah fikir sehingga spiritualitas dan non spiritualitas termasuk didalamnya. Belajar filsafat yang benar dan terarah adalah yang sesuai dengan konteks, yaitu sesuai dengan agama, daerah, suku bangsa dan sebagainya. Kenapa begitu? Karena tiap orang punya pandangan yang berbeda tentang cara berfilsafat, sebagai contoh orang yang beragama akan berbeda cara pandang dan cara menyampaikan jalan pemikirannya tentang filsafat dengan orang yang tidak beragama. Orang yang beragama akan menjunjung spiritualitas disamping intelektualitas yang mereka punya. Mereka mempercayai adanya Tuhan dan menggunakan hatinya untuk merasakan keberadaan Tuhan dalam kehidupannya. Memang sudah seharusnya seperti itu, karena spiritualitas adalah langit tertinggi dalam filsafat yang harus dijadikan fondasi ketika berfilsafat. Itulah cara berfilsafat yang baik dan terarah.
Filsafat memiliki cabang ilmu yang luas diantaranya adalah noumena. Noumena bukanlah sebuah paham melainkan pembagian atau kriteria. Segala sesuatu yang bisa terlihat oleh panca indra itu disebut fenomena sedangkan segala sesuatu yang tidak bisa dilihat o;eh panca indra dan keberadaannya hanya bisa dirasakan oleh fikiran disebut sebagai noumena. Dua pembagian ini merupakan hasil pemikiran filsuf yang bernama Immanuel Kant. Contoh noumena adalah Tuhan, arwah, hewan, manusia dan sebagainya. Tuhan tidak bisa dilihat, atau diraba, tapi keberadaan Tuhan bisa kita rasakan melalui hati dan fikiran kita. Ketika adzan solat berkumandang, ketika mendengar orang mengaji, ketika bertadarus dan bershalawat mengagungkan nama-nama Tuhan yang sangat kita percaya maka secara tidak langsung kita sudah merasakan keberadaan Tuhan dalam hidup kita. Karena Tuhan itu “ada” dan senantiasa melindungi umat manusia serta mengawasi setiap apa yang kita lakukan. Sehingga “ada” dalam filsafat memiliki tingkatan yaitu ada yang bisa dilihat dan ada yang tidak bisa dilihat.
Manusia dalam filsafat hanyalah sebuah titik diantara lautan pasir filsafat. Manusia dalam hidupnya sudah berfilsafat karena manusia sering bertanya apa? Mengapa? Dan bagaimana?. Filsafat cakupannya sangat luas, diatas langit filsafat masih ada langit spiritual, maka manusia tidak boleh melupakan spiritualitasnya dan harus banyak membaca ketika berfilsafat. Agar manusia mengerti dan tidak melupakan keberadaan Tuhan ketika berfilsafat. Filsafat itu menjelaskan sesuatu yang ada maupun yang tidak ada. Sesuatu yang bisa difikirkan maka sesuatu tersebut bisa disebut ada. Sering kali dalam penjelasannya filsafat menggunakan bahasa analog sebagai pengandaian terhadap sesuatu yang sedang dibicarakan. Misalnya, filsafat itu menjelaskan secara luas tentang apa yang ada didunia dan diluar dunia manusia, maka dapat dianalogikan bahwa filsafat adalah suatu penjelasan. Bahasa analog tidak hanya digunakan dalam berfilsafat saja, dalam struktur budaya dan kedaerahan juga sering dipakai untuk membedakan tingkatan ketika membicarakan tentang kekuasaan, ilmu pengetahuan, cinta, politik, ekonomi dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena bahasa analog itu bersifat ekstensif dan intensif yaitu seluas-luasnya atau sedalam-dalamnya.
Syarat awal berfilsafat adalah kesadaran, yaitu sadar akan dimensi ruang dan waktu. Dimensi ruang itu sangat luas cakupannya tidak hanya berhubungan dengan besar dan kecil saja, baju yang manusia pakai juga adalah ruang, kepala manusia juga adalah ruang bagi fikiran manusia, fikiran manusia juga merupakan suatu ruang bagi kehidupan manusia, nafas manusia juga merupakan ruang dan kata-kata manusia juga merupakan ruang. Begitu pula dimensi waktu, hari ini esok dan seterusnya merupakan sebagian kecil dari dimensi waktu. Masa lalu, masa depan dan segala sesuatu yang kita fikirkan tentang sesuatu yang membawa perubahan dalam hidup kita dan melibatkan perputaran waktu maka hal tersebut  juga bisa merupakan sebuah dimensi waktu. Inilah sisi menarik dari belajar filsafat, selalu terbuka dengan perubahan tanpa harus melupakan langit tertinggi dari filsafat itu sendiri yaitu spiritualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar