Filsafat
merupakan cara fikir yang terbuka, karena melibatkan olah fikir sehingga
spiritualitas dan non spiritualitas termasuk didalamnya. Belajar filsafat yang
benar dan terarah adalah yang sesuai dengan konteks, yaitu sesuai dengan agama,
daerah, suku bangsa dan sebagainya. Kenapa begitu? Karena tiap orang punya
pandangan yang berbeda tentang cara berfilsafat, sebagai contoh orang yang
beragama akan berbeda cara pandang dan cara menyampaikan jalan pemikirannya
tentang filsafat dengan orang yang tidak beragama. Orang yang beragama akan
menjunjung spiritualitas disamping intelektualitas yang mereka punya. Mereka
mempercayai adanya Tuhan dan menggunakan hatinya untuk merasakan keberadaan
Tuhan dalam kehidupannya. Memang sudah seharusnya seperti itu, karena
spiritualitas adalah langit tertinggi dalam filsafat yang harus dijadikan
fondasi ketika berfilsafat. Itulah cara berfilsafat yang baik dan terarah.
Filsafat
memiliki cabang ilmu yang luas diantaranya adalah noumena. Noumena bukanlah
sebuah paham melainkan pembagian atau kriteria. Segala sesuatu yang bisa
terlihat oleh panca indra itu disebut fenomena sedangkan segala sesuatu yang
tidak bisa dilihat o;eh panca indra dan keberadaannya hanya bisa dirasakan oleh
fikiran disebut sebagai noumena. Dua pembagian ini merupakan hasil pemikiran
filsuf yang bernama Immanuel Kant. Contoh noumena adalah Tuhan, arwah, hewan,
manusia dan sebagainya. Tuhan tidak bisa dilihat, atau diraba, tapi keberadaan
Tuhan bisa kita rasakan melalui hati dan fikiran kita. Ketika adzan solat
berkumandang, ketika mendengar orang mengaji, ketika bertadarus dan bershalawat
mengagungkan nama-nama Tuhan yang sangat kita percaya maka secara tidak
langsung kita sudah merasakan keberadaan Tuhan dalam hidup kita. Karena Tuhan
itu “ada” dan senantiasa melindungi umat manusia serta mengawasi setiap apa
yang kita lakukan. Sehingga “ada” dalam filsafat memiliki tingkatan yaitu ada
yang bisa dilihat dan ada yang tidak bisa dilihat.
Manusia
dalam filsafat hanyalah sebuah titik diantara lautan pasir filsafat. Manusia
dalam hidupnya sudah berfilsafat karena manusia sering bertanya apa? Mengapa?
Dan bagaimana?. Filsafat cakupannya sangat luas, diatas langit filsafat masih
ada langit spiritual, maka manusia tidak boleh melupakan spiritualitasnya dan
harus banyak membaca ketika berfilsafat. Agar manusia mengerti dan tidak
melupakan keberadaan Tuhan ketika berfilsafat. Filsafat itu menjelaskan sesuatu
yang ada maupun yang tidak ada. Sesuatu yang bisa difikirkan maka sesuatu
tersebut bisa disebut ada. Sering kali dalam penjelasannya filsafat menggunakan
bahasa analog sebagai pengandaian terhadap sesuatu yang sedang dibicarakan.
Misalnya, filsafat itu menjelaskan secara luas tentang apa yang ada didunia dan
diluar dunia manusia, maka dapat dianalogikan bahwa filsafat adalah suatu
penjelasan. Bahasa analog tidak hanya digunakan dalam berfilsafat saja, dalam
struktur budaya dan kedaerahan juga sering dipakai untuk membedakan tingkatan
ketika membicarakan tentang kekuasaan, ilmu pengetahuan, cinta, politik,
ekonomi dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena bahasa analog itu bersifat
ekstensif dan intensif yaitu seluas-luasnya atau sedalam-dalamnya.
Syarat
awal berfilsafat adalah kesadaran, yaitu sadar akan dimensi ruang dan waktu.
Dimensi ruang itu sangat luas cakupannya tidak hanya berhubungan dengan besar
dan kecil saja, baju yang manusia pakai juga adalah ruang, kepala manusia juga
adalah ruang bagi fikiran manusia, fikiran manusia juga merupakan suatu ruang
bagi kehidupan manusia, nafas manusia juga merupakan ruang dan kata-kata
manusia juga merupakan ruang. Begitu pula dimensi waktu, hari ini esok dan
seterusnya merupakan sebagian kecil dari dimensi waktu. Masa lalu, masa depan
dan segala sesuatu yang kita fikirkan tentang sesuatu yang membawa perubahan
dalam hidup kita dan melibatkan perputaran waktu maka hal tersebut juga bisa merupakan sebuah dimensi waktu.
Inilah sisi menarik dari belajar filsafat, selalu terbuka dengan perubahan
tanpa harus melupakan langit tertinggi dari filsafat itu sendiri yaitu
spiritualitas.