Minggu, 22 Desember 2013

Transformasi Diri


Dunia itu persis seperti apa yang kita bayangkan. Memang benar adanya pernyataan tersebut. Ketika kita berpikir positif tentang segala yang ada dan yang mungkin ada berkaitan dengan kehidupan kita, maka sesuatu yang positif itu akan datang kembali menghampiri kita. Bagaikan magnet yang kedatangannya tidak perlu diminta, namun dengan sendirinya akan berdampak baik dalam kehidupan. Lain halnya ketika kita memikirkan sesuatu yang buruk, pesimis, dan tidak percaya akan kemampuan diri sendiri. Ketika kita memikirkan segala sesuatu yang belum terjadi namun dengan penuh prasangka buruk didalam pikiranmu, maka seolah-olah itu menjadi sugesti buruk yang dibuat oleh diri sendiri sehingga tanpa diminta pun aura negatif akan menghampiri kita dan meng-ijabah seluruh pemikiran negatif yang kita buat tentang diri kita. Pada akhirnya sesuatu yang buruk tersebut menjadi kenyataan. Astagfirullah…
Dari sinilah kita harus bisa belajar untuk mengolah pikiran menjadi lebih baik, dalam arti kita bisa memanage pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam benak untuk kemudian diolah kearah positif. Selain olah pikir, kita juga harus mengokohkan olah hati. Sebab sumber dari segala sesuatu baik yang negatif dan positif itu berasal dari hati. Memang hanya Tuhan lah yang paling bersih NamaNya dari segala apapun. Tiada yang bisa menandingi kebesaran, kemuliaan dan ke-Esaan Tuhan. Tuhan maha tahu atas segala sesuatu yang dipikirkan oleh hambanya. Tuhan juga maha membolak balikkan hati manusia. Oleh sebab itu, Tuhan menganugrahkan kita Hati dan Akal agar kita bisa menggenggam dunia. Dengan hati kita bisa menimbang baik dan buruknya sesuatu, dengan akal kita bisa mendapatkan ilmu dan menciptakan suatu kreasi yang luar biasa.
Maka benarlah adanya, jika kita ingin berhasil berpikir positif lah dan berusaha semaksimal mungkin. Jikalau menemukan hambatan atau batu sandungan dari apa yang telah kamu usahan janganlah putus asa lalu berpikiran negatif atas rahmat dan takdir Allah. Semua masih bisa dilalui dengan lapang dada, percaya bahwa perjuangan kamu tidak akan berakhir sia-sia. Percaya bahwa Allah akan menjawab semua doa-doa kita, percaya bahwa Allah akan melindungi kita dalam menuntut ilmu dan dilindungi dari perbuatan-perbuatan curang yang membuat kita terbiasa melakukan hal-hal baik dengan cara yang tidak baik. Percaya bahwa Allah akan membimbing kita kearah yang lebih baik, percaya bahwa Allah akan mendekatkan kita pada jalan kesuksesan, percaya bahwa setiap usaha yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Dan percaya bahwa Allah selalu menyayangi kita. Cukuplah jadi orang yang bijaksana yang yang mempunyai framework lebih dari dimensinya, yang sopan santun terhadap ruang dan waktu serta yang mengetahui pola hidup yang baik dan yang buruk untuk kemudian kita bisa mengatur hidup kita menjadi lebih terarah. Belajar untuk selalu rendah hati dan belajar untuk menjadi sang facet yang bisa menempatkan diri terhadap ruang dan waktu, belajar untuk selalu istiqomah pada niat-niat baik dan belajar untuk menjadi hamba yang tidak mudah putus asa serta selalu berpikir positif atas rahmat Allah dan segala macam kekuasaannya. Semoga Allah membimbing kita semua kearah kesuksesan dan kita bisa menggenggam dunia dengan cara yang baik dan di ridhoi oleh Allah.

Minggu, 24 November 2013

HUBUNGAN PETA PENDIDIKAN 4 PAUL ERNEST DAN KURIKULUM 2013 BESERTA IMPLEMENTASINYA


 HUBUNGAN PETA PENDIDIKAN 4 PAUL ERNEST DAN KURIKULUM 2013 BESERTA IMPLEMENTASINYA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu Matematika
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit








Disusun oleh:
                                1.      Endah Okta Ningrum Wahana Sejati       (13709251049)
2.      Samsul Bahri                                           (13709251051)
3.      Hanna Filen Sopia                                   (13709251052)
4.      Megita Dwi Pamungkas                          (13709251081)
5.      Milah Nurkamilah                                   (13709251083)



PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013








PETA DUNIA MENURUT PAUL ERNEST

Paul Ernest menjabarkan peta pendidikan dunia menjadi empat bagian. Dari tiap-tiap peta pendidikan tersebut  menjelaskan karakteristik masing-masing dari setiap group sosial yang digolongkan oleh Paul Ernest yaitu industrial trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive educator, dan public educator. Berikut ini akan dijelaskan secara rinci mengenai peta pendidikan empat, dimana pada peta empat ini pendidikan yang dikategorikan berdasarkan gorup sosial lebih menekankan pada penjelasan pendidikan dari sudut pandang sumber (resources), penilaian (assesment), dan keragaman (diversity). Untuk kemudian setelah dijabarkan satu persatu karakteristik dari setiap aspek yang dikaji dalam peta pendidikan empat ini akan dikaitkan dengan implementasinya pada kurikulum 2013.
1.      Industrial trainer
a.       Resources
·         Pembelajaran berpusat pada guru (Teacher center) dimana siswa tidak diberikan kesempatan seluas-luasnya dalam pembelajaran.
·         Pembelajaran ini berupa instruksi yang dibentuk oleh guru untuk diikuti oleh siswa.
·         Alat yang digunakan dalam pembelajaran adalah kapur tulis, papan tulis, dan anti kalkulator.
·         Bisa dikatakan pembelajaran ini merupakan pembelajaran konvensional.
b.      Assesment
·         Menggunakan tes internal yang meliputi standar kelulusan.
·         Tes akhir dijadikan indikator keberhasilan tanpa melihat prosesnya.
c.       Diversity
·         Tidak adanya keragaman dalam hal kemampuan siswa, semua homogen karena proses pembelajaran yang terlalu terpusat pada guru.
2.      Technological pragmatist
a.       Resources
·         Sumber tetap pada guru, namun pada technological pragmatist dalam proses pembelajarannya guru sudah menggunakan alat bantu pengajaran seperti kalkulator.
·         Dalam pembelajarannya berbasis praksis atau lebih menekankan pada praktek siswa dalam proses pembelajaran.
b.      Assesment
·         Dari segi penilaian masih menggunakan eksternal test. Namun orientasi tujuan dari penilaian ini berbeda dengan industrial trainer. Tujuannya adalah untuk melihat keterampilan siswa dalam proses pembelajaran yang bisa digunakan atau diterapkan dalam dunia kerja.
c.       Diversity
·         Adanya keragaman sosial pendidikan dimana keragaman ini diarahkan agar mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja.
3.      Old humanist
a.       Resources
·         Guru sebagai sumber pembelajaran menggunakan alat bantu pengajaran berupa kalkulator, kompas, dan komputer. Hal ini digunakan dalam rangka meningkatkan motivasi dalam belajar matematika dan memfasilitasi siswa dalam memahami matematika.
b.      Assesment
·         Pada group sosial old humanist, penilaian dugunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam bidang matematika. Cara penilaiannya masih sama dengan sebelumnya yaitu menggunakan eksternal tes, namun lebih dikhususkan pada kemampuan matematika.
c.       Diversity
·         Dalam hal ini, matematika murni dipandang sebagai warisan budaya dari generasi ke generasi sehingga menimbulkan keberagaman pengetahuan matematika dalam tiap generasi yang berbeda.
·         Keragaman sosial pada old humanist dipandang sebagai sesuatu yang tidak terlalu mempengaruhi kompetensi siswa dalam matematika, sebab penilaian matematika dalam hal ini bersifat objektif.
4.      Progressive educator
a.       Resources
·         Sumber yang digunakan bervariasi tidak hanya berpusat pada guru, namun orientasi pembelajaran sudah berpusat pada siswa dimana penggunaan alat peraga ataupun fasilitas lainnya yang berhubungan dengan lingkungan pendidikan mampu mengeksplorasi kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika. Sumber untuk mencipta, mengekspresikan, dan membuat ide-ide matematika dibutuhkan untuk menghubungkan matematika dengan pengalaman siswa.
b.      Assesment
·         Penilaian eksternal tidak dilakukan karena dikhawatirkan akan merusak perkembangan siswa, kesalahan yang dilakukan siswa tidak langsung disalahkan tetapi diberitahukan dengan cara yang lain, misalnya tidak dengan menggunakan tanda silang tetapi dengan menuliskan “seharusnya” sehingga mengindikasikan bahwa jawaban mereka salah, hal ini dimaksudkan untuk melindungi siswa agar emosionalnya tidak tersakiti.  Menggunakan portofolio dalam penilaiannya, dimana dalam penilaiannya tidak hanya dilihat dari kemampuan praksis atau hasil akhir namun proses juga mempengaruhi dalam penilaian.
c.       Diversity
·         Multiple solution dalam hal ini menimbulkan keragaman pada kemampuan siswa dalam belajar matematika, karena siswa diberikan kesempatan dalam proses pencarian jawaban sehingga siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikir mereka menjadi lebih kreatif.
·         Local culture dalam proses pembelajaran, menimbulkan keragaman cara pengajaran matematika sebab disesuaikan dengan budaya setempat, artinya keragaman budaya dan ras yang dimiliki siswa digunakan untuk pembelajaran matematika, nilai besar yang diharapkan adalah untuk memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap siswa untuk mendorong emosi dan membantu membangun harga diri dan menghindari konflik dalam diri siswa.
5.      Pubilc educator
a.       Resources
·         Menyediakan berbagai jenis sumber belajar yang luas untuk memfasilitasi berbagai pendekatan mengajar yang bervariasi dan aktif.
·         Penyediaan alat seperti koran data statistik pendukung dan sebagainya untuk mempelajari dan menginvestasi hubungan dan keterkaitan sosial.
·         Memfasilitasi siswa untuk mengontrol dalam mengatur dirinya dan akses dirinya terhadap sumber belajar.
b.      Assesment
·         Penilaian dilakukan pada pengukuran kompetensi dan prestasi positif dalam matematika tanpa membedakan siswa berdasarkan kemampuan isi dari tes penilaiannya diantaranya berbentuk portofolio dengan konteks sosial.
c.       Diversity
·         Kurikulum matematika harus merefleksikan keragaman sejarah, budaya, lokasi geografis dan sumber daya. Keragaman tersebut diakui, diakomodasi, dan dikenal sebagai pusat atau bagian dari sifat matematika.



  
KURIKULUM 2013

A.    RESOURCES (SUMBER BELAJAR)
Arah pengembangan penguatan proses pada kurikulum 2013tepatnya dalam proses pembelajaran memiliki karakteristik sebagaiberikut:
1.      Menggunakan pendekatan ilmiah (scientific) melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta
2.      Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran
3.      Menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan diberi tahu (discovery learning)
4.      Menekankan kemampuan berbahasa sebagai alatkomunikasi, pembawa pengetahuan, berpikir logis, sistematis dan kreatif.
Dengan demikian sumber belajar diarahkan sebagai berikut:
1.      Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat
2.      Guru bukan satu-satunya sumber belajar, siswa diberi kesempatan untuk aktif mengeksplorasi pembelajaran menggunakan berbagai media dan alat karena pembelajaran berpusat pada siswa (student centered active learning)
3.      Sikap tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
4.      Buku teks wajib pegangan guru dan siswa disediakan oleh pemerintah, dengan model buku kurikulum 2013 sebagai berikut :
a.       Buku berbasis aktivitas untuk semua jenjang sekolah, terutama SD/MI
b.      Tiap pembahasan menggunakan pendekatan kontekstual (idealnya trandisipliner)
c.       Mengajak siswa untuk mencari tahu berdasarkan konteks pembahasannya
d.      Pendekatan terpadu untuk buku SD/MI dan IPA/IPS SMP/Mts
e.       Tiap pembahasan mencakup tiga ranah kompetensi : pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
f.       Tiap bab/tema memuat satu atau lebih projek untuk dikerjakan dan disajikan siswa.
5.      Sifat pembelajaran kontekstual, sehingga sumber belajar harus kontekstual
6.      Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan.

Dari kriteria yang dikemukakan dalam kerangka pengembangan kurikulum 2013 terlihat bahwa dari segi resources,  kurikulum 2013 mengacu pada pola pendidikan progressive educator dan public educator dalam ideologi pendidikan menurut Paul Ernest. Dimana sumber belajar harus mempertimbangkan dengan menggunakan berbagai variasi sumber belajar yang kontekstual dan berbasis proyek berdasarkan masalah-masalah sosial yang berkembang di lingkungan maupun masyarakat. Dengan sumber yang beragam, dan pembelajaran yang berbasis pada siswa aktif (student centered active learning) ini mampu mengekslporasi kemampuan siswa terutama dalam matematika, karena siswa dituntut untuk aktif membangun sendiri pengetahuannya, menambah keterampilan siswa dalam matematika, dan menanamkan sikap peduli dan menumbuhkan sikap bahwa belajar merupakan kebutuhan bagi perkembangannya sendiri, sehingga siswa memiliki kesadaran untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Dan diharapkan nantinya, mampu mengatasi permasalahan yang timbul dalam lingkungan sosialnya.
Selain itu, pendekatan ilmiah (scientific) yang diterapkan pada kurikulum 2013 mengacu pada technological pragmatis dimana siswa belajar melalui praktek dan sikap diajarkan tidak hanya diajarkan secara verbal tetapi melalui contoh dan teladan. 
Namun, untuk mendukung keberhasilan implementasi kurikulum 2013 ini perlu diperhatikan faktor pendukung keberhasilan kurikulum dilihat dari sumber/resources dalam pembelajaran sebagai berikut:
1.      Kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan kurikulum yang diajarkan dengan buku teks yang digunakan.
2.      Ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang:
a.       Mengintegrasikan keempat standar pembentuk kurikulum
b.      Sesuai dengan model interaksi pembelajaran
c.       Sesuai dengan model pembelajaran berbasis pengalaman individu dan berbasis deduktif
d.      Mendukung efektifitas sistem pendidikan

B.     SISTEM PENILAIAN
Proses penilaian pada kurikulum 2013 sebagai berikut:
1.      Proses penilaian dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output serta kemampuan menilai diri sendiri.
2.      Penilaian menekankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara proporsional.
3.      Penilaian tes dan portofolio saling melengkapi
4.      Deskripsi elemen perubahan penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 baik untuk SD,SMP, SMA dan SMK meliputi :
a.       Penilaian berbasis kompetensi
b.      Pergeseran penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian otentik (mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil)
c.       Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL.
d.      Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian dan penilaian mandiri oleh siswa.
5.      Sistem Penilaian Kurikulum 2013 yaitu sebagai berikut :
a.       Dilakukan oleh guru
1)      Penilaian otentik, dengan waktu pelaksanaan terus-menerus atau berkelanjutan
2)      Penilaian projek, waktu pelaksanaan di akhir bab atau tema
3)      Ulangan harian, waktu pelaksanaan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (terintegrasi dengan proses pembelajaran) dan dapat berupa penugasan.
4)      UTS/UAS, guru dibawah koordinasi satuan pendidikan dengan waktu pelaksanaan semesteran atau berdasarkan penentuan di kalender pendidikan pada program pembelajaran.
b.      Dilakukan oleh siswa 
Penilaian diri, yang dilakukan tiap kali sebelum ulangan harian.
c.       Dilakukan oleh sekolah
1)      Ujian Tingkat Kompetensi (selain UN) , dilaksanakan tiap tingkat kompetensi yang waktunya tidak bersamaan dengan UN dengan kisi-kisi dari pemerintah.
2)      Ujian Sekolah, dilaksanakan pada akhir jenjang sekolah
d.      Dilakukan oleh pemerintah
1)      Ujian Nasional (UN) , waktu pelaksanaan di akhir jenjang sekolah
2)      Ujian Mutu Tingkat Kompetensi, dilaksanakan tiap akhir tingkat kompetensi (yang bukan akhir jenjang sekolah), dilakukan dengan metode survei.
Berdasarkan uraian tentang penilaian yang dilakukan dalam kurikulum 2013, terlihat bahwa sistem penilaiannya menggunakan eksternal tes sekaligus portofolio assessment, dan penilaian diri. Hal ini menunjukan bahwa sistem penilaian kurikulum 2013 mengadopsi pada semua sistem penilaian dari 5 negara yang dikelompokkan oleh Paul Ernest.

C.    DIVERSITY (KERAGAMAN)
Keragaman individu atau siswa dalam kurikulum 2013 menjadi bahan pertimbangan yang penting. Dalam pengelolaan kurikulum, idealnya pemerintah pusat dan daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan, dan satuan pendidikan harus mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah. Kerangka pengembangan kurikulum seharusnya mampu mengakomodir berbagai keragaman peserta didik dalam kesiapan fisik, emosional, intelektual, dan spiritual. Sehingga kualitas output atau lulusan dapat memenuhi kebutuhan individu, masyarakat, bangsa, negara, dan dunia serta membangun peradaban secara luas. Melalui kurikulum 2013 yang menekankan pada aspek penguasaan sikap (spiritual, sosial), pengetahuan, keterampilan dianggap mampu untuk mengembangkan hal tersebut, dengan melalukan perubahan pada keempat standar kurikulum. Jadi terlihat jelas bahwa kurikulum 2013 ini mengadopsi pada keragaman yang terdapat pada progressive dan public educator.


HASIL DISKUSI
Secara teoritis kurikulum 2013 ini sudah bagus dilihat dari sumber belajar, penilaian dan keragaman. Karena mampu mengembangkan siswa secara individu baik sebagai pribadi, anggota masyarakat dan makhluk Tuhan yang beriman bertaqwa kepada Tuhan. Namun pada implementasinya, kurikulum ini sulit untuk diterapkan. Segala sesuatu yang direncanakan begitu baik jika dalam pelaksanaan dan implementasinya tidak matang dan memperhatikan segala aspek kebutuhan pendidikan sampai ke tingkat daerah maka akan mengalami kendala. Sehingga tidak heran jika terdapat banyak isu tentang kurikulum 2013 yang  beredar dipublik, diantaranya adalah pelaksanaan kurikulumnya terkesan mendadak tanpa evaluasi kurikulum yang sedang berjalan, tidak melibatkan guru atau asosiasi pendidik, kurang sosialisasi, dan mengabaikan kemampuan guru dalam membuat RPP dan silabus. Berikut gambaran mengenai hubungan peta pendidikan menurut paul ernest dan kurikulum 2013 ditinjau dari segi resources/sumber belajar, penilaian, dan diversity atau keragaman.

Secara teoritis, kurikulum 2013 dari segi resources, sistem penilaian dan diversity memiliki konsep yang bagus, namun jika dilihat dari implementasinya masih memiliki beberapa kendala, karena dari teori tersebut perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Dari segi materi atau konten pembelajaran, dirasa terlalu sulit atau tidak sesuai dengan perkembangan kognitif, jadi sebaiknya pembuatan buku sumber melibatkan pihak-pihak yang terkait agar buku yang dihasilkan kualitasnya bagus atau sesuai.
2.      Materi harus sesuai dengan tingkat perkembangan kogitif anak, termasuk metode atau pendekatan  pembelajarannya.
3.      Melakukan sosialisasi yang matang terhadap guru dan tenaga kependidikan sehingga kesiapan jauh lebih matang
4.       Kesiapan sarana dan prasarana baik dari siswa, guru, satuan pendidikan, dan pemerintah harus memang sudah benar-benar siap
5.      Peningkatan kompetensi guru
6.      Guru harus menguasai tentang format atau sistem penilaian sehingga tidak terdapat kendala dalam pelaksanaannya
7.      Materi harus disesuaikan dengan kebutuhan nasional dan daerah, agar output dari proses pendidikan ini mampu membangun dirinya sendiri, agama, masyarakat, bangsa dan negara 




Sabtu, 09 November 2013

KRITISME IMMANUEL KANT


BAB 1
PENDAHULUAN

Sejarah perkembangan dunia barat secara kronologis dimulai dengan masa Yunani Kuno 6 abad sebelum Masehi. Masa Hellenika Romawi abad 4 sebelum Masehi. Masa Parsitik abad 2 Masehi. Masa Skolastik abad 8 Masehi. Masa Rennaisanse abad 14-16  Masehi, kemudian memasuki masa Aufklaerung abad 18, atau memasuki periode Modern abad 19 serta Posmodernisme abad 20. Pada abad 17 muncul pemikiran falsafah empirisme, tokoh empirisme yang terkenal adalah  Francis Bacon (1561-1626), Thomas Hobes (1588-1679), dan John Locke (1632-1704). Kemudian muncul pula Rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes (1596-1650), dan Spinoza (1632-1677).  
Rasionalisme dianggap sebagai titik awal dimulainya pemikiran filsafah yang benar-benar menggunakan kemampuan berpikir atau ratio untuk memikirkan sesuatu secara lebih mendalam, tanpa dipengaruhi oleh doktrin agama atau mitos. Aliran ini menjelaskan bahwa kemampuan akal manusia dapat menerangkan segala macam persoalan dan memahami segala persoalan sehingga dapat menyelesaikan persoalan duniawi yang berkaitan dengan manusia.  Dengan kepercayaan yang sangat besar terhadap kemampuan akal manusia, maka mereka menentang setiap kepercayaan yang bersifat dogmatis yang terjadi pada abad  pertengahan.
Rene Descartes merupakan salah satu tokoh rasionalisme yang berlandaskan pada prinsip a priori. Prinsip ini meragukan segala macam pernyataan kecuali pada satu pernyataan yaitu kegiatan yang meragu-ragukan itu sendiri. Itu sebabnya Rene Descartes menyatakan sebuah pernyataan “saya berpikir maka saya ada (cogito ergo sum)”. Setelah itu muncul kembali sebuah aliran yang dikenal dengan empirisme yang menentang aliran rasionalisme. Tokoh yang mengembangkan aliran ini adalah Davis Hume (1611-1776).  David Hume menyatakan bahwa sumber satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan adalah pengalaman. Beliau menentang rasionalisme yang berlandaskan pada prinsip a priori, sebab kelompok ini menggunakan prinsip a posteriori. Oleh karena itu muncullah seorang filsuf yang bernama Immanuel Kant, yang ingin menyelesaikan perbedaan antara rasionalisme dan empirisme dengan menggunakan sintesis a priori.
Immanuel Kant adalah seorang filsuf besar yang muncul dalam pentas pemikiran filosofis zaman Aufklarung menjelang akhir abad ke 18. Lahir di Konisberg, sebuah kota kecil di Prussia Timur, pada tanggal 22 April 1724. Kant memulai pendidikan formalnya di Collegium Friderivianum, sekolah yang berlandaskan semangat Peitisme. Di sekolah ini anak dididik dengan disiplin yang tinggi, mengormati pekerjaan dan kewajibannya, sehingga sekolah ini mengajarkan begitu banyak hal yang kelak akan sangat berguna bagi perkembangan mental dan kehidupannya. Di sekolah ini diajarkan pula bahasa latin yang sering dipakai oleh kalangan terpelajar dan para ilmuwan untuk mengungkapkan pemikiran mereka. Immanuel Kant dikenal sebagai tokoh Kritisme. Hasil pemikiran ini bertujuan untuk menjembatani pertentangan antara kaum rasionalisme dan kaum empirisme, sebab menurut Kant baik rasionalisme maupun empirisme belum berhasil membimbing manusia untuk memperoleh pengetahuan yang pasti, berlaku umum, dan terbukti dengan jelas.



BAB II
PEMBAHASAN

Immanuel Kant adalah filsuf yang hidup pada puncak perkembangan abad pencerahan, yaitu masa dimana pemikiran yang menekankan rasionalisme sedang berkembang dengap pesat. Setelah hilang pada masa abad petengahan dimana otoritas kebenaran pada umumnya terletak di gereja dan para pendetanya, maka unsur rasionalitas ini seakan muncul kembali pada masa Renaisance pada abad ke 15, kemudian mencapai puncaknya pada abad ke 18. Negara Jerman tempat lahir Kant tidak berpartisipasi dalam proses abad pencerahan. Proses pencerahan ini lebih dipengaruhi oleh pemikiran John Locke (16321704) dan Newton. Para pemikir yang juga cukup berpengaruh pada masa itu adalah David Hume dan Adam Smith (17231790). Di Jerman era Pencerahan berjalan lambat. Hal ini terjadi karena kondisi masyarakat dan politiknya yang masih feodal pada masa itu, serta pemikiran rasionalisme yang sangat kuat pengaruhnya pada dunia akademik.
Immanuel Kant dalam merumuskan filsafatnya terinspirasi dari dua pandangan besar yang sangat berpengaruh di masa itu, yaitu rasionalisme dan empirisme. Perbedaan utama antara rasionalisme dan empirisme terletak pada prinsip pengetahuan yang dianutnya yaitu a priori dan a posteriori. Untuk menyelesaikan perbedaan antara Rasionalisme dan Empirisme, Iammanuel Kant mengajukan sintesis a pripori. Menurutnya, pengetahuan yang benar adalah yang sintesis a pripori, yakni pengetahuan yang bersumber dari rasio dan empiris yang sekaligus bersifat a pripori dan a posteriori. Immanuel Kant adalah pembawa aliran Kritisisme atau Rasionalisme Kritis atau lebih dikenal dengan Modernisme. Beliau terkenal dengan tiga kritiknya, yaitu  Critique of Pure Reason (1781), Critique of Practical Reason (1788), dan Critique of Judgment (1790). Hasil pemikirannya ini menunjukan sebuah sintesis antara posisi rasionalisme klasisk dan empirisme, dimana inti dari sintesis pengetahuan ini ditemukan dalam konsep pengetahuan sintetik a priori.
Sintesis Immanuel Kant mengenai rasionalisme dan empirisme didasarkan pada dialektika transendental. Filsafat transendental adalah filsafat yang berurusan bukan untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana manusia bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dll, melainkan berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran manusia tentang anatomi tubuh binatang, dll. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut hukum apriori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang berdasarkan pengetahuan inderawi (aposteriori).
Dalam pengetahuan indrawi Kant berpendapat bahwa selalu ada dua bentuk apriori yaitu ruang dan waktu. Pada taraf akal budi, Kant membedakan antara akal budi dengan rasio. Akal budi untuk memikirkan segala sesuatu yang ditangkap oleh indrawi yang juga merupakan bentuk pengenalan antara bentuk dengan materi sebagai bentuk data-data indrawi yang dinamakan sebagai kategori. Sedangkan pada taraf rasio Kant menyatakan bahwa rasio digunakan untuk menngambil kesimpulan dari suatu keputusan, rasio juga membentuk tiga argumentasi mengenai Tuhan, jiwa, dan dunia. Ide disini merupakan suatu cita-cita yang menjamin kesatuan antara jiwa, dunia, dan Tuhan.
Immanuel Kant berpendapat bahwa pengetahuan yang dihasilkan melalui rasionalisme tercermin dalam putusan yang bersifat analitik apriori, dimana keputusan ini mengandung kepastian dan berlaku umum. Sedangkan pada aliran empirisme tercermin dalam putusan sintetik a posteriori yang bersifat tidak tetap. Oleh karena itu Kant memadukan keduanya dalam bentuk sintetsis a priori, dalam putusan ini   akal budi dan pengalaman digunakan serentak, dimana untuk mendapatkan suatu putusan sintetik a priori ini harus melalui tiga tahap, yaitu:
1.      Tahap indrawi.
Pada tahap ini subjek sangat berperan penting dalam mengambil keputusan, namun tentu saja harus ada rasio murni yaitu ruang dan waktu yang dapat diterapkan dalam pengalaman. Hasil dari tahap ini merupakan sebuah fenomena kongkret, namun berubah-ubah disesuaikan dengan subjek dan situasi yang dialami oleh subjek tersebut.
2.      Tahap akal budi.
Segala sesuatu yang didapatkan pada tahap pertama tadi, agar mendapatkan pengetahuan yang bersifat lebih objektif dan universal maka haruslah dituangkan dalam bentuk akal.
3.      Tahap rasional.
Pada tahap ini merupakan pengetahuan yang telah didapat dari tahap pertama dan kedua sehingga menghasilkan sebuah putusan sintetik a priori, ketika dikaitkan dengan tiga macam ide yaitu Tuhan sebagai ide teologis, jiwa sebagai ide psikologis, dunia sebagai ide kosmologis. Ketiga ide ini hanya merupakan petunjuk untuk menciptakan adanya kesatuan pengetahuan.
Setelah menjelaskan fungsi pemikiran manusia sebagai suatu yang ilmiah, maka Kant juga menjelaskan fungsi praktis dari pemikiran manusia. Fungsi ini menjelaskan bahwa pemikiran manusia perlu mensyaratkan untuk bertindak secara etis, oleh sebab itu kehidupan secara etis mensyaratkan keabadian dan itu berarti Tuhan. Oleh karena itu, argumentasi tentang Tuhan harus diambil dengan akal budi praktis, sehingga menyatakan diri sebagai hukum moral dalam hidup. Manusia bisa menyadari akan datangnya segala sesuatu yang baik dan membimbing dirinya untuk mencapai segala sesuatu dalam kebaikan merupakan sebuah kekuatan yang didapat karena adanya Tuhan, jika tidak ada campur tangan Tuhan maka manusia tidak akan tahu tujuan hidup mereka yang sebenarnya.  Pemikiran etika ini menjadi pelopor lahirnya argument moral tentang adanya Tuhan dengan Kant sebagai pelopornya.



BAB III
KESIMPULAN

Immanuel Kant merupakan seorang filsuf yang menggabungkan antara aliran rasionalisme dan empirisme yang dipelopori oleh Rene Descartes dan David Hume. Penggabungan dua aliran ini tercipta dalam suatu pandangan  kritisme Immanuel Kant. Tiga kritikan yang menjadi karya Immanuel Kant yang paling terkenal dan memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran para filsuf sesudahnya, yaitu
1.      Critique of Pure Reason yaitu kritik atas rasio murni (1781).
2.      Critique of Practical Reason kritik atas rasio praktis (1788).
3.      Critique of Judgment kritik atas pertimbangan (1790) 


DAFTAR PUSTAKA
 
Abshor, Muhammad Ulil. (2013). Bukti Adanya Tuhan Menurut Immanuel Kant. Tersedia pada: http://digilib.uinsuka.ac.id/7674/2/BAB%20I,%20VI,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf . Diakses pada tanggal 9 November 2013.
Ausop, Asep Zaenal. (2005). Modul Pendidikan Agama Islam Institut Teknologi Bandung. Bandung: Jurusan Sosioteklnologi, Fakultas Seni Rupa dan Design, ITB.
Bordum, Anders. (2002). The Categorical Imperative Analyzing Immanuel Kant’s Grounding for A Metaphysics of Morals. Tersedia pada: http://openarchive.cbs.dk/xmlui/bitstream/handle/10398/6418/wp42002.pdf?sequence=1. Diakses pada tanggal 9 November 2013.
Wattimena, Reza AA. (2010). Filsafat Kritis Immanuel Kant. Tersedia pada: http://rezaantonius.files.wordpress.com/2010/03/kant.pdf. Diakses pada tanggal 9 November 2013.