Rabu, 11 September 2013

Berita Baik Vs Berita Buruk

     Baru kemarin saya mendapatkan kabar bahwa saya diterima disalah satu bank milik pemerintah daerah yang notabene banyak orang yang ingin masuk dan bekerja disana. Saya memastikan kebenaran dari berita itu dengan mengecek inbox email saya. Ternyata memang benar ada nama saya disitu dan untuk melengkapi pemberkasan dan segala macamnya saya harus pulang kekampung halaman pada tanggal 11 September yang tepat jatuh pada hari ini. Permasalahannya adalah saya sekarang berstatus sebagai mahasiswa aktif di program studi pendidikan matematika pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Awalnya saya tidak terlalu memperdulikan hal tersebut karena memang saya melamar dibank tersebut hanya ingin mengetahui sejauh mana saya bisa bersaing dalam dunia pekerjaan, dan saya tetap memprioritaskan sekolah saya karena dari awal ini memang keinginan saya dalam rangka mencapai impian saya untuk menjadi dosen. Tapi ketika saya menelpon kedua orang tua saya, saya diminta untuk memilih kedua option tersebut, terus terang saya agak sulit jika diminta untuk memilih sebuah pilihan. Padahal saya pernah membaca, tapi lupa dimana bahwa salah satu kekuatan hidup adalah kekuatan untuk memilih. Keraguan muncul begitu saja dan spontan saya mengeluarkan air mata karena yang membuat saya sedih bukan karena saya harus memilih antara dua pilihan atau saya harus kehilangan pekerjaan disana. Tapi perkataan orangtua saya yang mengatakan "yang penting teteh deket sama papa disini kalo teteh kerja disini" :(. Alhamdulillah, selang beberapa jam dari percakapan kami lewat telpm tepatnya ba'da magrib setelah saya selesai bertadarus orangtua saya mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya "Teh, selesaikan saja S2nya, papa mama disini mendoakan semoga teteh selalu sukses". :)
     Ternyata disinilah letak kasih sayang orangtua, beliau berdua mencoba tegar melepas kepergian anaknya dan memberi restu serta doa untuk keberhasilan dan kemandirian anaknya disini. Tapi disisi lain beliau berdua khawatir akan keberadaan anaknya yang nun jauh disana apakah makannya cukup atau tidak, asupan gizinya cukup atau tidak, sehat atau tidak, pergaulannya baik atau tidak, rajin dan tekuh ibadah serta belajar atau tidak? yaa memang ini hal yang lumrah, karena orangtua sudah membesarkan saya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. Saya bersyukur hidup dalam kesederhanaan namun untuk berbahagia kami tidak perlu untuk menunggu kaya, oleh karena itu saya disini sedang berjuang atas nama Allah dan nama baik kedua orang tua saya bahwa saya harus bisa melakukan yang terbaik, lalu berjuang dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Walaupun disini banyak yang jauh lebih pandai dari segi ilmu pengetahuan, tapi saya tetap tidak akan menyerah demi orang tua. Saya akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik. Jangan dulu menyerah dan rendah diri, karena pada dasarnya Allah telah menciptakan kita dengan otak yang sama, hanya tinggal bagaimana kita mengolah otak tersebut agar sinkron dengan hati. Karena cerdas pikir saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kecerdasan hati.
   Saya berdoa, semoga siapapun orang yang mendoakan kedua orangtuanya dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan orangtuanya baik di dunia maupun di akhirat, maka hidupnya akan senantiasa diberikan keberkahan dan kebahagiaan oleh Allah SWT serta dijauhkan dari siska api neraka. Amin amin amin ya Robbal'alamiin.
     Dari sekelumit cerita singkat tersebut, saya menarik sebuah kesimpulan bahwa suatu berita baik akan menjadi berita buruk jika kita hanya fokus pada satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya, sebaliknya suatu berita buruk akan menjadi berita baik jika kita bisa mengambil hikmah dari semua kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita. Semuanya terletak pada diri manusia itu sendiri, berbahagia dan bersyukurlah. Karena Allah pasti punya rencana terbaik bagi kehidupan setiap hambanya di Dunia ini. Harapan akan selalu ada bila kita PERCAYA. :)

Alhamdulillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar