Minggu, 24 November 2013

HUBUNGAN PETA PENDIDIKAN 4 PAUL ERNEST DAN KURIKULUM 2013 BESERTA IMPLEMENTASINYA


 HUBUNGAN PETA PENDIDIKAN 4 PAUL ERNEST DAN KURIKULUM 2013 BESERTA IMPLEMENTASINYA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu Matematika
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit








Disusun oleh:
                                1.      Endah Okta Ningrum Wahana Sejati       (13709251049)
2.      Samsul Bahri                                           (13709251051)
3.      Hanna Filen Sopia                                   (13709251052)
4.      Megita Dwi Pamungkas                          (13709251081)
5.      Milah Nurkamilah                                   (13709251083)



PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013








PETA DUNIA MENURUT PAUL ERNEST

Paul Ernest menjabarkan peta pendidikan dunia menjadi empat bagian. Dari tiap-tiap peta pendidikan tersebut  menjelaskan karakteristik masing-masing dari setiap group sosial yang digolongkan oleh Paul Ernest yaitu industrial trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive educator, dan public educator. Berikut ini akan dijelaskan secara rinci mengenai peta pendidikan empat, dimana pada peta empat ini pendidikan yang dikategorikan berdasarkan gorup sosial lebih menekankan pada penjelasan pendidikan dari sudut pandang sumber (resources), penilaian (assesment), dan keragaman (diversity). Untuk kemudian setelah dijabarkan satu persatu karakteristik dari setiap aspek yang dikaji dalam peta pendidikan empat ini akan dikaitkan dengan implementasinya pada kurikulum 2013.
1.      Industrial trainer
a.       Resources
·         Pembelajaran berpusat pada guru (Teacher center) dimana siswa tidak diberikan kesempatan seluas-luasnya dalam pembelajaran.
·         Pembelajaran ini berupa instruksi yang dibentuk oleh guru untuk diikuti oleh siswa.
·         Alat yang digunakan dalam pembelajaran adalah kapur tulis, papan tulis, dan anti kalkulator.
·         Bisa dikatakan pembelajaran ini merupakan pembelajaran konvensional.
b.      Assesment
·         Menggunakan tes internal yang meliputi standar kelulusan.
·         Tes akhir dijadikan indikator keberhasilan tanpa melihat prosesnya.
c.       Diversity
·         Tidak adanya keragaman dalam hal kemampuan siswa, semua homogen karena proses pembelajaran yang terlalu terpusat pada guru.
2.      Technological pragmatist
a.       Resources
·         Sumber tetap pada guru, namun pada technological pragmatist dalam proses pembelajarannya guru sudah menggunakan alat bantu pengajaran seperti kalkulator.
·         Dalam pembelajarannya berbasis praksis atau lebih menekankan pada praktek siswa dalam proses pembelajaran.
b.      Assesment
·         Dari segi penilaian masih menggunakan eksternal test. Namun orientasi tujuan dari penilaian ini berbeda dengan industrial trainer. Tujuannya adalah untuk melihat keterampilan siswa dalam proses pembelajaran yang bisa digunakan atau diterapkan dalam dunia kerja.
c.       Diversity
·         Adanya keragaman sosial pendidikan dimana keragaman ini diarahkan agar mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja.
3.      Old humanist
a.       Resources
·         Guru sebagai sumber pembelajaran menggunakan alat bantu pengajaran berupa kalkulator, kompas, dan komputer. Hal ini digunakan dalam rangka meningkatkan motivasi dalam belajar matematika dan memfasilitasi siswa dalam memahami matematika.
b.      Assesment
·         Pada group sosial old humanist, penilaian dugunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam bidang matematika. Cara penilaiannya masih sama dengan sebelumnya yaitu menggunakan eksternal tes, namun lebih dikhususkan pada kemampuan matematika.
c.       Diversity
·         Dalam hal ini, matematika murni dipandang sebagai warisan budaya dari generasi ke generasi sehingga menimbulkan keberagaman pengetahuan matematika dalam tiap generasi yang berbeda.
·         Keragaman sosial pada old humanist dipandang sebagai sesuatu yang tidak terlalu mempengaruhi kompetensi siswa dalam matematika, sebab penilaian matematika dalam hal ini bersifat objektif.
4.      Progressive educator
a.       Resources
·         Sumber yang digunakan bervariasi tidak hanya berpusat pada guru, namun orientasi pembelajaran sudah berpusat pada siswa dimana penggunaan alat peraga ataupun fasilitas lainnya yang berhubungan dengan lingkungan pendidikan mampu mengeksplorasi kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika. Sumber untuk mencipta, mengekspresikan, dan membuat ide-ide matematika dibutuhkan untuk menghubungkan matematika dengan pengalaman siswa.
b.      Assesment
·         Penilaian eksternal tidak dilakukan karena dikhawatirkan akan merusak perkembangan siswa, kesalahan yang dilakukan siswa tidak langsung disalahkan tetapi diberitahukan dengan cara yang lain, misalnya tidak dengan menggunakan tanda silang tetapi dengan menuliskan “seharusnya” sehingga mengindikasikan bahwa jawaban mereka salah, hal ini dimaksudkan untuk melindungi siswa agar emosionalnya tidak tersakiti.  Menggunakan portofolio dalam penilaiannya, dimana dalam penilaiannya tidak hanya dilihat dari kemampuan praksis atau hasil akhir namun proses juga mempengaruhi dalam penilaian.
c.       Diversity
·         Multiple solution dalam hal ini menimbulkan keragaman pada kemampuan siswa dalam belajar matematika, karena siswa diberikan kesempatan dalam proses pencarian jawaban sehingga siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikir mereka menjadi lebih kreatif.
·         Local culture dalam proses pembelajaran, menimbulkan keragaman cara pengajaran matematika sebab disesuaikan dengan budaya setempat, artinya keragaman budaya dan ras yang dimiliki siswa digunakan untuk pembelajaran matematika, nilai besar yang diharapkan adalah untuk memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap siswa untuk mendorong emosi dan membantu membangun harga diri dan menghindari konflik dalam diri siswa.
5.      Pubilc educator
a.       Resources
·         Menyediakan berbagai jenis sumber belajar yang luas untuk memfasilitasi berbagai pendekatan mengajar yang bervariasi dan aktif.
·         Penyediaan alat seperti koran data statistik pendukung dan sebagainya untuk mempelajari dan menginvestasi hubungan dan keterkaitan sosial.
·         Memfasilitasi siswa untuk mengontrol dalam mengatur dirinya dan akses dirinya terhadap sumber belajar.
b.      Assesment
·         Penilaian dilakukan pada pengukuran kompetensi dan prestasi positif dalam matematika tanpa membedakan siswa berdasarkan kemampuan isi dari tes penilaiannya diantaranya berbentuk portofolio dengan konteks sosial.
c.       Diversity
·         Kurikulum matematika harus merefleksikan keragaman sejarah, budaya, lokasi geografis dan sumber daya. Keragaman tersebut diakui, diakomodasi, dan dikenal sebagai pusat atau bagian dari sifat matematika.



  
KURIKULUM 2013

A.    RESOURCES (SUMBER BELAJAR)
Arah pengembangan penguatan proses pada kurikulum 2013tepatnya dalam proses pembelajaran memiliki karakteristik sebagaiberikut:
1.      Menggunakan pendekatan ilmiah (scientific) melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta
2.      Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran
3.      Menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan diberi tahu (discovery learning)
4.      Menekankan kemampuan berbahasa sebagai alatkomunikasi, pembawa pengetahuan, berpikir logis, sistematis dan kreatif.
Dengan demikian sumber belajar diarahkan sebagai berikut:
1.      Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat
2.      Guru bukan satu-satunya sumber belajar, siswa diberi kesempatan untuk aktif mengeksplorasi pembelajaran menggunakan berbagai media dan alat karena pembelajaran berpusat pada siswa (student centered active learning)
3.      Sikap tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
4.      Buku teks wajib pegangan guru dan siswa disediakan oleh pemerintah, dengan model buku kurikulum 2013 sebagai berikut :
a.       Buku berbasis aktivitas untuk semua jenjang sekolah, terutama SD/MI
b.      Tiap pembahasan menggunakan pendekatan kontekstual (idealnya trandisipliner)
c.       Mengajak siswa untuk mencari tahu berdasarkan konteks pembahasannya
d.      Pendekatan terpadu untuk buku SD/MI dan IPA/IPS SMP/Mts
e.       Tiap pembahasan mencakup tiga ranah kompetensi : pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
f.       Tiap bab/tema memuat satu atau lebih projek untuk dikerjakan dan disajikan siswa.
5.      Sifat pembelajaran kontekstual, sehingga sumber belajar harus kontekstual
6.      Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan.

Dari kriteria yang dikemukakan dalam kerangka pengembangan kurikulum 2013 terlihat bahwa dari segi resources,  kurikulum 2013 mengacu pada pola pendidikan progressive educator dan public educator dalam ideologi pendidikan menurut Paul Ernest. Dimana sumber belajar harus mempertimbangkan dengan menggunakan berbagai variasi sumber belajar yang kontekstual dan berbasis proyek berdasarkan masalah-masalah sosial yang berkembang di lingkungan maupun masyarakat. Dengan sumber yang beragam, dan pembelajaran yang berbasis pada siswa aktif (student centered active learning) ini mampu mengekslporasi kemampuan siswa terutama dalam matematika, karena siswa dituntut untuk aktif membangun sendiri pengetahuannya, menambah keterampilan siswa dalam matematika, dan menanamkan sikap peduli dan menumbuhkan sikap bahwa belajar merupakan kebutuhan bagi perkembangannya sendiri, sehingga siswa memiliki kesadaran untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Dan diharapkan nantinya, mampu mengatasi permasalahan yang timbul dalam lingkungan sosialnya.
Selain itu, pendekatan ilmiah (scientific) yang diterapkan pada kurikulum 2013 mengacu pada technological pragmatis dimana siswa belajar melalui praktek dan sikap diajarkan tidak hanya diajarkan secara verbal tetapi melalui contoh dan teladan. 
Namun, untuk mendukung keberhasilan implementasi kurikulum 2013 ini perlu diperhatikan faktor pendukung keberhasilan kurikulum dilihat dari sumber/resources dalam pembelajaran sebagai berikut:
1.      Kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan kurikulum yang diajarkan dengan buku teks yang digunakan.
2.      Ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang:
a.       Mengintegrasikan keempat standar pembentuk kurikulum
b.      Sesuai dengan model interaksi pembelajaran
c.       Sesuai dengan model pembelajaran berbasis pengalaman individu dan berbasis deduktif
d.      Mendukung efektifitas sistem pendidikan

B.     SISTEM PENILAIAN
Proses penilaian pada kurikulum 2013 sebagai berikut:
1.      Proses penilaian dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output serta kemampuan menilai diri sendiri.
2.      Penilaian menekankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara proporsional.
3.      Penilaian tes dan portofolio saling melengkapi
4.      Deskripsi elemen perubahan penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 baik untuk SD,SMP, SMA dan SMK meliputi :
a.       Penilaian berbasis kompetensi
b.      Pergeseran penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian otentik (mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil)
c.       Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL.
d.      Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian dan penilaian mandiri oleh siswa.
5.      Sistem Penilaian Kurikulum 2013 yaitu sebagai berikut :
a.       Dilakukan oleh guru
1)      Penilaian otentik, dengan waktu pelaksanaan terus-menerus atau berkelanjutan
2)      Penilaian projek, waktu pelaksanaan di akhir bab atau tema
3)      Ulangan harian, waktu pelaksanaan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (terintegrasi dengan proses pembelajaran) dan dapat berupa penugasan.
4)      UTS/UAS, guru dibawah koordinasi satuan pendidikan dengan waktu pelaksanaan semesteran atau berdasarkan penentuan di kalender pendidikan pada program pembelajaran.
b.      Dilakukan oleh siswa 
Penilaian diri, yang dilakukan tiap kali sebelum ulangan harian.
c.       Dilakukan oleh sekolah
1)      Ujian Tingkat Kompetensi (selain UN) , dilaksanakan tiap tingkat kompetensi yang waktunya tidak bersamaan dengan UN dengan kisi-kisi dari pemerintah.
2)      Ujian Sekolah, dilaksanakan pada akhir jenjang sekolah
d.      Dilakukan oleh pemerintah
1)      Ujian Nasional (UN) , waktu pelaksanaan di akhir jenjang sekolah
2)      Ujian Mutu Tingkat Kompetensi, dilaksanakan tiap akhir tingkat kompetensi (yang bukan akhir jenjang sekolah), dilakukan dengan metode survei.
Berdasarkan uraian tentang penilaian yang dilakukan dalam kurikulum 2013, terlihat bahwa sistem penilaiannya menggunakan eksternal tes sekaligus portofolio assessment, dan penilaian diri. Hal ini menunjukan bahwa sistem penilaian kurikulum 2013 mengadopsi pada semua sistem penilaian dari 5 negara yang dikelompokkan oleh Paul Ernest.

C.    DIVERSITY (KERAGAMAN)
Keragaman individu atau siswa dalam kurikulum 2013 menjadi bahan pertimbangan yang penting. Dalam pengelolaan kurikulum, idealnya pemerintah pusat dan daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan, dan satuan pendidikan harus mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah. Kerangka pengembangan kurikulum seharusnya mampu mengakomodir berbagai keragaman peserta didik dalam kesiapan fisik, emosional, intelektual, dan spiritual. Sehingga kualitas output atau lulusan dapat memenuhi kebutuhan individu, masyarakat, bangsa, negara, dan dunia serta membangun peradaban secara luas. Melalui kurikulum 2013 yang menekankan pada aspek penguasaan sikap (spiritual, sosial), pengetahuan, keterampilan dianggap mampu untuk mengembangkan hal tersebut, dengan melalukan perubahan pada keempat standar kurikulum. Jadi terlihat jelas bahwa kurikulum 2013 ini mengadopsi pada keragaman yang terdapat pada progressive dan public educator.


HASIL DISKUSI
Secara teoritis kurikulum 2013 ini sudah bagus dilihat dari sumber belajar, penilaian dan keragaman. Karena mampu mengembangkan siswa secara individu baik sebagai pribadi, anggota masyarakat dan makhluk Tuhan yang beriman bertaqwa kepada Tuhan. Namun pada implementasinya, kurikulum ini sulit untuk diterapkan. Segala sesuatu yang direncanakan begitu baik jika dalam pelaksanaan dan implementasinya tidak matang dan memperhatikan segala aspek kebutuhan pendidikan sampai ke tingkat daerah maka akan mengalami kendala. Sehingga tidak heran jika terdapat banyak isu tentang kurikulum 2013 yang  beredar dipublik, diantaranya adalah pelaksanaan kurikulumnya terkesan mendadak tanpa evaluasi kurikulum yang sedang berjalan, tidak melibatkan guru atau asosiasi pendidik, kurang sosialisasi, dan mengabaikan kemampuan guru dalam membuat RPP dan silabus. Berikut gambaran mengenai hubungan peta pendidikan menurut paul ernest dan kurikulum 2013 ditinjau dari segi resources/sumber belajar, penilaian, dan diversity atau keragaman.

Secara teoritis, kurikulum 2013 dari segi resources, sistem penilaian dan diversity memiliki konsep yang bagus, namun jika dilihat dari implementasinya masih memiliki beberapa kendala, karena dari teori tersebut perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Dari segi materi atau konten pembelajaran, dirasa terlalu sulit atau tidak sesuai dengan perkembangan kognitif, jadi sebaiknya pembuatan buku sumber melibatkan pihak-pihak yang terkait agar buku yang dihasilkan kualitasnya bagus atau sesuai.
2.      Materi harus sesuai dengan tingkat perkembangan kogitif anak, termasuk metode atau pendekatan  pembelajarannya.
3.      Melakukan sosialisasi yang matang terhadap guru dan tenaga kependidikan sehingga kesiapan jauh lebih matang
4.       Kesiapan sarana dan prasarana baik dari siswa, guru, satuan pendidikan, dan pemerintah harus memang sudah benar-benar siap
5.      Peningkatan kompetensi guru
6.      Guru harus menguasai tentang format atau sistem penilaian sehingga tidak terdapat kendala dalam pelaksanaannya
7.      Materi harus disesuaikan dengan kebutuhan nasional dan daerah, agar output dari proses pendidikan ini mampu membangun dirinya sendiri, agama, masyarakat, bangsa dan negara 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar